Beberapa Review di blog ini sebagian besar merupakan spoiler. Persiapkan diri anda sebelum membuka artikelnya. Trimakasih. -author-

Review: The Wedding

Kamis, Februari 19, 2015


The Wedding

My rating: 4 of 5 stars



Aku baca langsung seri keduanya walaupun yang aku cari di rental pada awalnya adalah buku The Bride. Tapi itu bukan masalah untukku karena aku juga mendapatkan buku ini secara cuma-cuma, kecuali kalau aku harus keluar uang denda.

Khas dari Julie Garwood kalau aku pikir-pikir lagi. Dia selalu mengawali kisah tokohnya dengan unik, dan tokohnya sendiri juga unik. Aku menyukai bagaimana cara JG mendiskripsikan kecerobohan dan sifat pelupa milik Brenna. Dan kekonyolan yang diungkapkan di awal cerita sungguh menarikku untuk mengikuti apalagi kekonyolan yang dilakukan oleh tokoh ini.

Brenna memiliki hati yang halus dan lembut. Dia punya kebiasaan untuk terus berdoa di setiap kesempatan dan itu menurutku adalah sesuatu yang lucu. Belum lagi dengan perilakunya ketika prosesi pernikahan. Karakter Brenna sangat unik dan membawa perbedaan tersendiri dibandingkan karakter lain. Brenna juga tidak mudah merasa sakit setelah dibuktikan ketika ia jatuh dari tangga dan terluka karena hampir di perkosa dan ia masih mampu berdiri.


Aku menyukai cara JG meletakkan keunikan cerita di atas alur yang ingin ia sampaikan. Ada banyak sekali kisah peperangan di novel ini, tapi JG sepertinya tahu bahwa wanita agaknya mudah bosan jika disuguhi terlalu banyak perang, sehingga ia berusaha meminimalisir kisah peperangannya dan tetap fokus di alur yang lebih menarik, yaitu kisah tentang Brenna dan kehidupannya termasuk di dalamnya adalah Connor.

Tokoh-tokoh di novel ini seringkali membuatku ingin tertawa. Tentang bagaimana Pendeta menjadi teman Brenna, atau mengenai Davis yang harus kalah bertahan ketika Brenna ingin menaiki kuda hitam milik Connor.

Yang aku sayangkan dari novel ini adalah, keberadaan Connor yang sering tidak dimunculkan ketika Brenna melakukan kesalahan atau melukai dirinya sendiri. Kupikir akan lebih baik kalau ada bagian dimana Connor terlihat khawatir karena ia melihat Brenna dengan mata kepalanya sendiri terluka, walaupun tidak mungkin karena Connor pasti sudah menyelamatkannya. Tapi bukan itu maksudku. Aku hanya berfikir bahwa Connor perlu berada di samping Brenna setelah kejadian tragis itu menimpa Brenna sehingga ia bisa melihat dengan pasti kondisi Brenna yang babak belur, bukannya setelah dibalut. Meskipun tidak kekurangan sisi lemah, panik, dan khawatir dari Connor, tapi entah kenapa dia memang jarang sekali berada di samping Brenna. Padahal setelah kejadian mengerikan yang di alami Brenna dan bagaimana ia melantur, sungguh, aku ingin tahu apa yang akan dilakukan Connor saat itu.

Bagaimanapun, jelas novel ini tidak mengurangi ketertarikanku terhadap cara Julie Garwood menyelesaikan kisah ini. Tetap semenarik biasanya.



Tidak ada komentar :

Posting Komentar

Syarat menambahkan komentar:

>> Jangan berkomentar dengan menggunakan Anynomous
>> Gunakan account google kamu atau jika tidak gunakan URL, yang penting ada nama kalian.. :)
>> Tidak menerima komentar berisi spam..
>> Apabila komentar tidak muncul, berarti komentar kalian belum di moderasi. Jadi tolong mengerti ya.. :)

terimakasih

-------------------------------------||-------------------------------------

Regulation to fill the comment box:

>> Don't use Anynomous
>> Use your google account or just your link/ URL. The main point is, always put your name here :)
>> Cannot receive any spam comment such as comment that it's not relevant with my topic
>> When your comment does not appear, it because I haven't approve that or I haven't read that. So just wait until I read that, please understand :)

Thank you

Catatan Terbaru