Beberapa Review di blog ini sebagian besar merupakan spoiler. Persiapkan diri anda sebelum membuka artikelnya. Trimakasih. -author-

Drama Korea 7 Kepribadian 'Kill Me Heal Me'

Sabtu, November 12, 2016



Sebelum mulai reviewnya, seperti biasa aku ngoceh dulu ya. Nggak suka boleh skip.

Aku lupa kapan aku tahu tentang drama ini. Sepanjang ingatanku sih rasanya udah lama banget, mungkin pas tahun 2015 itu ya. Kapan itu aku habis nonton She Was Pretty dan suka suka sukaaaa banget sama drama itu, eh tapi nggak aku tulis review-nya, mian. Aku juga nggak tau kenapa nggak aku tulis. Nah, habis nonton itu kan aku suka banget ya sama lead male-nya She Was Pretty trus akucari deh drama yang pernah dia mainkan. Ternyata Kill Me Heal Me. Mana sama ceweknya itu pula! Tapi... waktu aku lihat perannya, eh dia jadi orang ketiga ya? Dan saat lihat covernya dan aku nggak kenal siapa sih itu lead malenya, alhasil gagal nonton. Gak jadi nonton. Walaupun waktu lihat ratingnya sih bagus ya nggak tau kenapa aku ini pemilih banget nonton drama. Sebelum yakin bagus ya nggak nonton. Sebelum yakin sama aktornya juga nggak yakin nonton.

7 Hubungan Terfavorit dan Paling Sedih di Naruto

Minggu, September 04, 2016

Berhubung aku baru saja menamatkan Naruto (kebut anime 200 episode + komik volume 72 karena animenya belum muncul + the day become hokage naruto gaiden), ternyata efek Naruto yang akhirnya tamat ini masih membekas dan membuatku sulit move on, seperti biasa. Hohoho. Kalau movienya udah aku tonton dan aku bahas disini : http://aneka-catatan.blogspot.com/2015/12/curhat-review-last-boruto-naruto-movie.html

Sebenarnya untuk Naruto sendiri ada banyak kisah yang bisa diceritakan, karena panjaaaaang banget dan banyaaaaak banget, jadi bisa dipastikan bisa bikin buku kalau semuanya diceritakan. Alasan lainnya, aku nggak mungkin cerita semuanya. Anywaaay, aku cuma mau sedikit share aja beberapa bagian favoritku dalam anime Naruto ini sepanjang episode (terutama 200 episode terakhir), dan here they are guuuys:

#MyCupOfStory - Permulaan

Kamis, Agustus 18, 2016

sumber: google


Blog post ini dibuat dalam rangka mengikuti Kompetisi Menulis Cerpen #MyCupOfStory Diselenggarakan oleh GIORDANO dan Nulisbuku.com



“Ugh!”

Tubuhku terdorong ke depan, dan air panas di tanganku langsung terciprat ke segala arah, terutama ke lengah kemejaku yang jujur saja, baru aku beli 2 hari yang lalu.

Jadi, saat ini, aku punya beberapa masalah terkait apa yang baru saja terjadi. Aku baru saja berniat untuk menikmati rutinitas pagiku sebelum berangkat kuliah, yaitu meminum kopi, ini juga adalah kali pertama aku ke café ini berkat rekomendasi temanku di instagram, aku baru memutuskan untuk memakai baju baruku, dan rutinitas pagiku berantakan karena seseorang menyenggolku dan…

Jangan salahkan aku kalau aku langsung menengok penuh ancaman ke arah orang yang baru saja menabrakku dan sekarang mataku tengah mencarinya.

Tunggu,

Mencarinya?

Hey… kemana dia?

Romantis dan Manisnya Film 'Winter in Tokyo'

Selasa, Agustus 16, 2016



Sebenarnya aku lagi males nulis review *huhu*, tapi berhubung ini aku baru aja nonton Winter in Tokyo, jadi... rasanya aku perlu mengungkapkan beberapa hal setelah aku menontonnya. Masalahnya kalau aku tulis besok-besok keburu malesnya tambah parah.

Jadi guys, aku baru aja nonton film Winter in Tokyo  *iya lin, kamu kan baru aja ngomong*

Ehm.

Nah, dan kenapa aku bela-belain nonton filmnya?

Karena aku cinta mati sama novelnya.

Karena Winter in Tokyo merupakan sebuah 'sejarah' buat aku. Dan karena Winter in Tokyo juga, preferensi hobiku jadi berubah dan ketauan kemana arahnya.

Konyol nggaksih kalo sebuah novel bisa menjadi berarti bagi seseorang?

Karena aku merasakannya demikian.

Anyway, sebelum aku review ke filmnya, maafkan kalau aku pingin cerita banyak betapa novel ini berarti untuk aku. 

Keunikan Kemudian.com sebagai media menulis

Kamis, Agustus 11, 2016

Siapa sih yang suka nulis novel, cerpen, skenario, dan butuh seseorang membaca? dan mencari pembacanya di komunitas online?

Dan untuk yang menyukai aktifitas ini, pasti tau dong dengan beberapa platfrom untuk menulis dan membaca seperti Wattpad.com untuk cerita internasional, atau Storial.co yang dikhususnya untuk penulis Indonesia.atau asianfanfic atau fanfiction.net (ini juga internasional).

Nah, ada satu platform lagi yang menurutku sudah ada sebelum wattpad dan storial mulai terkenal, yaitu Kemudian.com




Sebenarnya situs kemudian.com ini aku kenal dari 8 tahun yang lalu, lupa deh itu gara-gara apa. Pokoknya waktu itu aku emang butuh tempat buat backup file-file ceritaku, selain aku juga lagi butuh pembaca, butuh kritik, dan saran untuk tulisanku. Secara ya, kalo dari sudut pandangku kan jadi nggak objektif, nah makannya aku cari-cari tuh tempat biar bisa share cerita. Lalu bertemulah aku dengan k.com ini. Saat itu versi mobile belum ada, aku juga masih SMP, dan lagi, saat itu belum ada android. Nah, jadi aksesnya emang cuma bisa lewat pc atau laptop. Secara penampilan, k.com itu sederhana dan ringan untuk di akses. Pokoknya nggak ribet, sekali masuk langsung ngerti deh sama menu-menunya.

Mermaid In Love, putri duyung jaman sekarang

Selasa, Agustus 02, 2016




"Nah lho! Kamu nonton ini, lin?"

Ya... emmm...

Sebenernya enggak sih, cuma adikku yang masih SMP itu berasa nggak bisa kalo nggak nonton sinetronnya Mermaid in Love, dan aku selalu bekerja di dekat tv, jadi mau tidak mau ya aku tahu.

Aku bahkan tahu drama india tontonannya adikku, senama-namanya! It doesn't mean I like it well, I just know it!

Ada perbedaan aku menyukai dan aku kebetulan nonton dan tahu ceritanya. Kalo aku suka, itu artinya aku nggak bisa ketinggalan ceritanya, sedangkan kalau aku kebetulan tau karena aku lebih suka mengkritik tayangan tersebut sampai-sampai aku tahu ceritanya haha, dan yang pasti nggak penasarannya. Masa-masaku penasaran dengan tayangan sinetron sampai addicted udah lewat bertahun-tahun yang lalu.

Jadi, postingan ini berawal ketika pagi hari tanpa sengaja ada acara infotainment yang membahas tentang Mermaid in Love, dimana disebutkan kalau pemainnya sedang cinlok.

Menemukan Tempat Jualan yang Tepat (Tokopedia, Bukalapak, Olx, Instagram)

Hari ini mau share sedikiiit tentang pengalamanku menjual barang di marketplace yaa. Tempat jual beli online. Sampai saat ini sih marketplace yang sering aku pakai untuk jualan adalah tokopedia dan bukalapak, tapi selain itu aku juga memakai forum seperti kaskus, facebook, olx, dan instagram. Tapiii berhubung yang aku share ini agak menyinggung tentang perbandingan, jadi aku akan menggunakan tempat-tempat yang jualanku terjual aja ya.

Sejauh ini sih tempat yang sering berguna untuk melakukan jual beli online antara lain tokopedia, bukalapak, instagram, dan olx. Sedangkan di facebook, sama kaskus nggak tau akunya emang nggak pandai beragan ria atau bingung berurusan dengna jual beli di facebook, jadinya aku posting barang cuma sekali dua kali dan itu nggak laku-laki wkwkwkwk. Oke deh guys, jadi ini aku sebutkan beberapa marketplace yang menurutku paling cocok untuk pemula.

Share Wifi (Hostpot) dari Modem ke HP

Senin, Agustus 01, 2016



So, guys, judul di atas adalah apa yang sering terjadi kepadaku selama beberapa tahun belakangan ini ketika aku sangat ingin bisa sekali aja beli pulsa (pulsa modem) trus bisa share deh wifinya ke handphone.

Dulu aku pake beberapa software yang artikelnya sering direkomendasiin google di 10 teratas hasil pencarian. Dan aku menemukan software yang sama, kasus yang sama.

Semua aplikasinya nggak ada yang jalan!

Connect - Disconnect mulu gitu deh. Dan akhirnya bikin aku nyerah buat bisa share wifi dari modem ke hape. 

Export Semua Review Buku

Sabtu, Juli 30, 2016

Taraaaa~ kerasa banget deh sekarang postinganku jadi sepi banget. Yang awalnya postingan untuk tahun 2016 ada sekitar 40 postingan, sekarang cuma tinggal 18 doang!!!!

Tapi yaudah lah ya, aku udah mutusin kalo semua review buku-ku aku pindah ke blog-ku http://mybookspoiler.blogspot.com

Karenaaaa... karena aku mau gabung BBI, hmm..

Dan sekarang resikonya blogku yang ini nyaris kayak tinggal tulangnya doang karena nggak ada postingan review novel yang biasanya bikin banyak postingan. That's mean, aku harus cari cara nggak tau apa buat bikin blogku ini ada isinya. Well, semoga ada sih ya.

Sekarang mah tiap hari ngerasa pingin nulis terus, orang libur gini. Besok aja udah mulai masuk KP aku pasti jarang pegang blog lagi, huhu, tapi setidaknya aku akan tetap membaca. 



Salam, Adlina Haezah

Inception (Analisa Motif, Tata Rias, Busana)

Baru-baru ini karena nggak lagi nonton film atau nggak lagi baca novel juga, dan karena kelihatannya aku tetep pingin ngisi blogku dengan sesuatu, jadi boleh lah ya aku buang-buang tugas-tugasku kuliah. Daripada nggak ada yang baca menjamur di laptop? Iya nggak.

Jadi semester kemarin itu ada mata kuliah yang namanya "Filmologi" jadi belajar tentang teori film gitu deh, *dan sampe sekarang aku tetep nggak tau dapet apa di mata kuliah itu*, yang pasti selama semester itu sepanjang ingatanku aku kerjaannya disuruh menganalisis, dan yang dianalisis cuma boleh satu film dan itu adalah film yang paling aku sukai. Naaah, berhubung aku tuh suka banget sama Inception sampe aku teriak-teriak juga kan di blog ini, jadi yaudah deh aku pake film itu buat di analisis selama satu semester. 

Trial and Error

Kamis, Juli 28, 2016


Aku ngabisin waktu buat ngrombak ulang template blog ini sampe tiga hari!!

3 hari!


Dan aku masih belum puas juga sama hasilnya.

Sebenernya sih simpel ya templatenya, simpel banget malah, dan kalo dibilang seharusnya nggak susah-susah amat ngrombaknya. Tapi ya karena saya ini manusia yang tidak becus dalam masalah koding xml, beginilah jadinya. 3 hari ini habis buat:

1. Belajar script-nya (aku harus tau maksud b:include, b:if, b:else, dan demi apa nggak ada web yang benar-benar menjelaskan maksud dan penerapannya secara langsung, so, aku harus trial and error)

2. Belajar css-nya (belajar css sih dulu smk juga pernah, tapi disini mungkin karena kodingnya sudah teringtegrasi dengan blogspot jadinya banyak yang automatic coding gitu, kayak penggunaan $keycolor di css-nya yang nggak berani aku utek-utek biar nggak hancur.

Edit Dasar CSS pada Template Blogspot

Selasa, Juli 26, 2016

Teng tong teng toooong!!
Akhirnya berubah juga deh template blog-ku. Hiks.

Jadi templateku yang ini *tunjuk bawah* udah ganti, jadi yang sekarang ini...



Agak sedih juga sih, soalnya template lamaku ini adalah template terlama yang aku pake, dan sekarang rasanya aku membutuhkan sedikit pembaharuan, jadi berubah deh dari item ke putih... dari gelap ke terang.

Anyway, karena di blogku ini udah aku pasangin tambahan coding ya yang terintegrasi sama beberapa aplikasi penting, jadi nggak mungkin aku cari template di luar, alhasil satu-satunya cara adalah rombak sendiri, dan itu... susah...

‘Tetangga Masa Gitu’, Tayangan Komedi yang Lengkap

Senin, Juli 25, 2016



Sebuah program acara situasi komedi berjudul ‘Tetangga Masa Gitu’ sudah memasuki tahun ke-3 dalam penayangan, tepatnya musim ketiga. Meskipun sudah mencapai lebih dari 300 episode, sitkom ini masih memperoleh perhatian audience-nya dan terutama masih menjadi program unggulan dari program-program hiburan Net TV.Durasi dalam setiap episode adalah sekitar 30 menit, tetapi dalam 30 menit ini sutradara berhasil meramu keseluruhan adegan menjadi keseharian yang menyenangkan dari kedua pasangan. Di awal episode, selalu berpusat pada masalah di satu pasangan dengan diberikan pada visual angka umur pernikahan contohnya pada pernikahan bastian dituliskan 345 hari atau 285 hari, dst. Sedangkan untuk perbandingan, pasangan Adi justru dituliskan pada visual umur pernikahan keduanya sudah mencapai ribuat contohnya 2876 hari 2119 hari, dst.

Kisah Keluarga Bohongan demi Penyelundupan Ganja "We're The Millers"

Sabtu, Juli 23, 2016




Guuuyyysss balik lagi neeeeh....

"penting amat ya nyapa dulu??"
"plis lin, pikir aja sendiri emang ada yang mampir?"

*abaikan seperti biasanya saja ya*

Anyway, kemarin habis acara buber temen SMK ku Multimedia '12 *jiaaah maap gak penting amat ya nyebut lengkap gini*, pokoknya habis acara itu kita main ke Mubox, dan kami nonton tuh film random pokoknya, minta petugasnya yang nyariin saking nggak tau mau nonton apa.

Maunya sih nonton yang genrenya Action, Comedy gitu deeeh..

dan akhirnya dapet ini deh!

Yay!!

"WE'RE THE MILLERS"

Cara menulis konten berkualitas dan promosi artikel

Jumat, Juli 22, 2016




"Ngapain lin nulis-nulis itu?" *tunjuk judul di atas*
"Iya lin, bukannya kamu itu belum ahlinya ya nulis-nulis begitu?" *ngekek*

Ugh.
Okay, abaikan.

Jadi yang di bawah ini sebenernya nggak usah dihiraukan sih. Aku cuma tulis untuk pengingatku aja, soalnya lagi butuh catatan optimasi konten dan promosi. Sedangkan takutnya kalo aku save di laptop pasti hilang dan lupa. Setidaknya karena tongkronganku aja disini, jadi kalo butuh petunjuk tinggal klik sana klik sini.

"Oh, jadi untuk kebutuhan pribadi..."

Emang iya!!!

Jadi mohon maklum, tulisan ini sebenernya bukan ditujukan untuk di share karena aku belum ahlinya. Tapi kalo ada yang mau baca ya juga nggak apa... hehe

Film Romantis Emosional: Love, Rosie

Jumat, Juli 15, 2016



Belakangan ini entah kenapa aku lagi suka banget nonton film yang di adaptasi dari novel. Sebenernya aku lagi suka baca novel, *iya, dari berbulan2 yang lalu* dan lagi agak males nonton film, tapiiiii... ehm. Kemarin nggak tau kenapa pingin banget nonton the 5th wave kan ya, dan itu karena aku lihat bukunya booming banget di Goodreads, so, I watched the movie and I love it!

Karena dari novel, jadi ketika nonton aku juga sambil bayangin ini penulisnya berarti gambarin karakternya begini, bikin alurnya begini, dan karena waktu itu dystopia genrenya jadi emang yakin nggak bakal aku baca novelnya dan aku udah cukup puas sama filmnya. Tapi karena itu juga kayaknya aku jadi kerajingan cari film-film yang diadaptasi dari buku. Habis nonton itu aku nonton film serialnya Divergent, dan aku suka lagi. Habis itu serialnya Hunger Games, dan aku juga suka lagi. Semakin sering aku nonton film-film yang diadaptasi dari buku aku jadi tambah well, bisa dibilang kagum karena visualnya bener-bener bikin aku ngerasa kayak nggak perlu baca bukunya lagi. Aku dapet semua pesan yang ingin disampaikan walaupun bisa jadi nggak sejelas novelnya.

Dan sekarang, aku nonton film adaptasi juga, tapi genrenya insta-love, chicklit gitu. Dan biasanya kalo genre ini aku baca bukunya aja nggak nonton filmnya soalnya vocabnya aku pasti bisa paham sih kalo nuansanya romance gitu. Anyway, karena aku dapet film ini waktu lagi nyari-nyari buku yang diadaptasi ke film tahun 2014 dan waktu baca blurbnya kayaknya bagus, so, I decided to watch it.

Review Film: The 5th Wive

Senin, Juli 11, 2016




Yaay! I finally watched this!!!

Filmnya baru rilis tahun ini kalo gak salah. Udah liat dari lama bukunya muncul di bagian rekomendasi di Goodreads, genrenya dystopia gitu, genre2 yang kayaknya bukunya nggak bakal aku baca apalagi kalo versi inggrisnya, kelihatannya belum sanggup. Anyway, kalo diterjemahin juga kayaknya nggak kebaca. Buku-buku kayak gitu soalnya pasti butuh pemahaman dan kata-kata yang harus sangat dimengerti, aku sih lebih butuh secara visual kali ya daripada nerjemahin maksud visual bukunya.

Anyway lagi, aku akan mulai reviewnya.

Kali Pertama Memilih BNI dalam Berbankan

Sabtu, Mei 28, 2016


Pengalaman saya bersama BNI dimulai sejak saat saya kuliah, tepatnya di Institut Seni Indonesia Yogyakarta sekitar 3 tahun yang lalu. Sebenarnya untuk berbankan sendiri ini bukan yang pertama kalinya bagi saya. Dulu saya pernah membuat rekening tabungan ketika masih di bangku SMA tetapi bukan BNI yang saya gunakan saat itu, dan penggunaan bank tersebut berakhir ketika saya kehilangan dompet saya beserta atm saya. Hanya saja karena saya malas mengurus ke kepolisian, dan karena sudah begitu lama tidak digunakan, akhirnya saya mengikhlaskannya dan membiarkan kartu saya terblokir dengan sendirinya. Kembali ke BNI, sebenarnya ketika saya pertama kali mengisi surat pendaftaran ulang saat masuk kuliah, saya nyaris kegirangan karena saya akan memiliki rekening baru, dan itu adalah sesuatu yang sudah saya tunggu sejak lama. Yah, selama ini kemalasan saya menang sehingga saya tidak pernah jadi-jadinya untuk berangkat membuat rekening baru. Tentu saja saya mendapatkan kesempatan ini dengan cara yang cukup praktis karena semuanya nyaris diurus oleh kampus tanpa saya harus turun tangan dan yang harus saya lakukan hanya mengisi folmulir. Jelas saya puas. Sebentar lagi akhirnya punya rekening baru!! Itu yang saya pikirkan saat itu dan setelah itu mulailah pengalaman saya bersama BNI ketika dalam masa penantian rekening BNI yang baru.

Review Ending Drama 'Reply 1988'

Selasa, Maret 22, 2016


Ketika drama ini akhirnya mencapai ending, aku nangis. Bagian itu sedih, sediiih banget.

Emang sih, setiap dari mereka menemukan kebahagiaan mereka masing-masing, tapi itu nggak menutup kenyataan bahwa akhirnya kompleks yang sudah mereka tempati selama beberapa dekade akhirnya kosong dan sepi.

Udah gitu lagunya yang dipake di bagian ending bikin sedih, dan emosinya luar biasa.  Ini lagu kampret banget serius, bikin keingetan. Dan ini drama yang diakhiri dengan akhir bahagia sekaligus akhir yang sedih. Drama ini berhasil bikin kita ikut terbalut emosi tentang 'kenangan' yang dijadikan kunci paling kuat drama ini.

Drama Korea vs Waktu (Efek nonton Reply 1988)



Belakangan ini sepertinya aku sadar, kalau alasan aku lebih memilih nonton film yang langsung tamat daripada drama korea adalah.... takut kepikiran.

Aku suka banget nonton drama, jujur ya.. sukaaa banget. Aku suka momen-momen ketagihan dan kepikiran, termasuk momen aku jatuh cinta sama pemainnya, karakternya, alur ceritanya. 

Nah, dan perasaan itu muncul lagi setelah aku nonton drama Reply 1988. Aku sebelumnya sedang menonton drama Remember, tapi nggak kelar-kelar juga, lama pendingnya, dan begitu nonton Reply 1988 apalagi dengan bombardir feromonnya si Choi Taek, jadi nggak bisa berhenti. Dan itu, negatifnya bikin waktuku tersita bukan hanya habis untuk nonton dramanya, tapi juga habis karena waktuku jadi nggak bisa lepas dari bayang-bayang drama itu sendiri. Aku cukup lama menyelesaikan 20 episode, perihal mataku yang udah nggak sekuat dulu, jadi baru 3 jam nonton udah pusing kepalanya dan harus ditidurin, dan itu... bikin waktuku jadi tersita jauh lebih banyak. Meskipun nontonnya cuma beberapa jam, tapi efek bayang-bayangnya bisa seharian, dan untuk masa-masa kritisku dimana aku sedang kuliah ini, sebenarnya itu agak gawat. Aku jadi nggak bisa mengerjakan tugas lainnya karena belum selesai menonton dramanya, apalagi kalo udah gampang kangen sama karakter-karakternya, widiiih... nggak akan deh itu kegarap semua tugasnya.

Makannya, daripada drama, aku lebih condong nyelesein novel yang sama-sama ketagihan sih, tapi selesainya bisa cepet karena cuma satu buku dan nggak berepisode-episode. Trus kalo novel juga bayangin karakternya agak susah karena semuanya tertuang dalam bentuk tulisan, jadi nggak ada versi nyatanya. Beda sama drama, udah ada wajahnya, udah ada karakternya, dan yang nyakitin banget tuh tokoh kayak gitu tuh nggak mungkin ada di kehidupan nyata.

Review Film Memento (2000)

Minggu, Februari 28, 2016


Oh, how should I say?

Meeen, aku udah nonton film ini 3 kali, dan baru sekarang ini aku benar-benar mengerti isi filmnya! Bukan kesimpulannya ya, tapi cara bertutur film ini sendiri.

Jujur, aku masih deg-degan habis nonton film ini, dan sejak Inception, rasanya film Christoper Nolan nggak akan pernah mengecewakan. Yah, walaupun kalau film Memento ini sebenarnya justru sebelum Inception ya, tapi sejauh ini semua film garapan Christoper Nolan, selama ia memegang peranan sebagai sutradara dan penulis naskah, filmnya pasti-paaassssti memukau.

Aku sudah menobatkan diriku sebagai pecinta film Sci-Fi.

Tapi sebenarnya aku menyukai film yang membuatku tertegun setelah selesai menonton filmnya, aku suka dengan film-film yang memberikanku twist tanpa henti, yaaah… seperti film-film Nolan.

Kembali ke Memento.

Film ini diceritakan dengan dua gaya, alur maju dan mundur. Sungguh eksperimental ya alurnya dibikin dua jenis gini, tapi ketika aku menonton untuk yang ketiga kali syukurlah aku benar-benar mengerti bagaimana cara menggabungkan puzzle pada ceritanya. Mungkin karena otakku sudah berkembang cukup baik, entahlah.

Review Film: The Grand Budapest

Kamis, Februari 04, 2016



The Grand Budapest Hotel ini film yang direkomendasikan oleh dosenku di mata kuliah penulisan naskah, sehingga ketika aku akhirnya memutuskan untuk menonton sebenarnya aku berharap akan menemukan jenis penuturan cerita yang unik.

Ah ya, ternyata dari segi bercerita, film ini memang unik. Aku bahkan harus mengulang lagi dari awal karena ketika sampai di akhir di kepalaku masih muncul banyak pertanyaan. Setelah aku mencoba mengulang dan memahami film ini, syukurlah aku akhirnya mengerti juga. Penuturan ceritanya dibuat tiga lapis. Pertama dari seorang gadis yang membaca sebuah buku milik The Author, kemudian di buku itu ada foto The Author dan masuk ke dalam sudut pandang The Author yang bercerita tentang kisahnya ketika ia berkunjung ke Grand Budapest Hotel dan bertemu dengan Zero Mustafa pemilik hotel yang menceritakan kisah perjalanannya hingga memiliki hotel mewah tersebut. Mudah dimengerti kok, nggak terlalu membingungkan, cuma memang unik. Bahkan di awal karena saking bingung apa maksudnya cerita berlapis-lapis kayak gitu akhirnya aku cuma ngikutin aja ceritanya sampai mengerti sendiri.

Review Film: Harmony (2010)

Jumat, Januari 29, 2016



Aku nonton film ini nggak langsung habis, dan nggak nyangka kalau aku bakal berakhir dengan mata bengkak ketika akhirnya memutuskan untuk meneruskan menonton film ini.

Lagi-lagi film korea berhasil membuatku sesak nafas dan menangis tersedu-sedu karena semua emosi yang dimunculkan dalam film ini.

Kali ini aku nggak akan nulis panjang lebar, karena sejujurnya, aku nggak sanggup. Film ini terlalu sedih... terlalu mengaduk-aduk emosi. Betatapun aku mencoba untuk menahan tangis, jadinya aku tetap harus sesenggukan.

Review Film: The Grand Budapest Hotel

Minggu, Januari 24, 2016




The Grand Budapest Hotel ini film yang direkomendasikan oleh dosenku di mata kuliah penulisan naskah, sehingga ketika aku akhirnya memutuskan untuk menonton sebenarnya aku berharap akan menemukan jenis penuturan cerita yang unik.

Ah ya, ternyata dari segi bercerita, film ini memang unik. Aku bahkan harus mengulang lagi dari awal karena ketika sampai di akhir di kepalaku masih muncul banyak pertanyaan. Setelah aku mencoba mengulang dan memahami film ini, syukurlah aku akhirnya mengerti juga. Penuturan ceritanya dibuat tiga lapis. Pertama dari seorang gadis yang membaca sebuah buku milik The Author, kemudian di buku itu ada foto The Author dan masuk ke dalam sudut pandang The Author yang bercerita tentang kisahnya ketika ia berkunjung ke Grand Budapest Hotel dan bertemu dengan Zero Mustafa pemilik hotel yang menceritakan kisah perjalanannya hingga memiliki hotel mewah tersebut. Mudah dimengerti kok, nggak terlalu membingungkan, cuma memang unik. Bahkan di awal karena saking bingung apa maksudnya cerita berlapis-lapis kayak gitu akhirnya aku cuma ngikutin aja ceritanya sampai mengerti sendiri.

Ada kesadaran lainnya ketika aku menonton film ini yang ternyata tidak hanya terletak di segi cerita, ada yang jauh lebih ditonjolkan dari hal tersebut. Emm… ini pertama kali aku menonton film Wes Anderson sehingga jujur saja masih belum mengerti benar ciri khas dari filmnya. Dan ternyata ciri khas Wes Anderson adalah permainan sinematografi yang sangat indah.

Disepanjang film yang diceritakan mundur hingga ke tahun 1935 kalau tidak salah, kita disajikan 2 aspek rasio yaitu 16:9 dan 4:3, well, aku nggak benar-benar mengerti apa maksudnya, tapi aku mencoba menyimpulkan bahwa itu mengikuti jarak ceritanya dari masa kini ke masa lalu yang sangat jauh. Ah ya, jadi kembali ke tahun 1935-an itu, dengan aspek rasio 4:3, hal lain yang sangat terasa pada film Wes Anderson adalah penataan artistik yang sangat lengkap, rapih, dan eye catching. Rasanya kita menonton film ini tidak hanya difokuskan oleh cerita, tapi banyak kali lebih difokuskan kepada visualnya yang sangat cantik, dengan warna-warninya yang harmonis, dan terutama tatanannya yang selalu membuatku kagum. Belum lagi pengambilan gambarnya yang selalu terlihat simetris, benar-benar memanjakan mata dan fokus kepada objek utama tapi selalu seimbang, dan itu membuat film ini terasa indah.

Dan hal unik lainnya adalah ritme film ini, juga musik yang digunakan. Aku jadi keingetan film-film bisu dan film-film lama yang dikasih musik, jenis musik yang digunakan sejenis dengan film ini. Ah, rasanya jadi seperti kembali menyaksikan film-film pada sejarah film itu sendiri. Dan ritmenya juga mirip, bahkan disaat-saat serius pun film ini tetap menggunakan ritme yang terasa menghibur dan lucu, seolah mengajak penontonnya untuk terus tersenyum apapun keadaannya.

Agak sulit mengikuti kekacauan ceritanya yang cukup absurd, kalimat-kalimat yang sering digunakan pemainnya juga seringkali bikin cengoh karena nggak terserap dengan baik dikepala, tapi jelas film ini sulit untuk di skip karena sekali lagi ada banyak unsur lain yang memaksa kita untuk tekun menonton film ini. Em, film ini cukup jeli juga sehingga banyak hal yang awalnya tidak begitu kuhiraukan akhirnya kuputar ulang dan mendapati bahwa hal-hal tersebut ternyata cukup penting.


Tidak ada pesan yang berarti, tapi sebagai hiburan, film ini sangat menghibur tidak meninggalkan rasa sedih teramat dalam ataupun membuat kita memikirkan hal-hal yang rumit. Film ini sangat sederhana dan imajinatif, sangat cocok sebagai hiburan dan pelarian diri dari dunia nyata.



Salam, ADLN_haezh

Review Film: Very Ordinary Couple (2013)

Jumat, Januari 22, 2016


Such a simple movie!

Dan menurutku film ini menjadi luar biasa karena kesederhanaannya. Tapi sebelum itu, aku ingin memberikan tepuk tangan kepada sang DOP.

That’s sooo beautiful.

Kalau dilihat sekilas, kita mungkin cuma melihat pengambilan gambar yang sebagian besar hand held seolah ini adalah sebuah film dokumenter. Tapi sebenarnya pengambilan gambar secara hand held ini membantu kita untuk masuk ke dalam cerita secara langsung, seolah kita adalah yang merekam adegan-adegan tersebut. Ritme film ini diawal terasa sangat cepat, cuttingnya cepat, dialognya cepat, dan itu sangat membantu kita ikut merasakan amarah yang sedang dibawa oleh pemainnya pada saat itu. Dan tidak ada shot yang mubazir, semuanya efektif dan bahkan shot-shotnya sendiri bercerita dengan cara yang unik sehingga kita mengartikannya dengan sudut pandang yang berbeda. Entah kenapa aku sendiri merasa otakku ikut membaca shot-shot yang dibawa film ini, misalnya aja adegan ketika Deputi  Park membantu menjadi perantara ketika Young ingin bertanya pada Lee. Kita hanya dilihatkan Park bertanya pada Lee, tidak diperlihatkan ketika Young memintakan menyampaikan pesannya untuk disampaikan kepada Lee, hanya dilihatkan ketikan Park kembali ke meja Young setelah itu tapi shot berikutnya ia sudah bertanya lagi kepada Lee. Cerdas.

Review Film: The Fault in Our Stars


Ehm… kali ini aku akan membahas sebuah film yang cukup terkenal, The Fault in Our Stars, dimana film ini sebenarnya tayang pada tahun 2014 lalu tapi sayangnya aku baru nonton hari ini. Okay, it’s my bad

However, better now than never, right?

Dan kali ini aku ingin mencoba merubah sudut pandang dalam mereview film, karena beberapa alasan dan ini juga baik untuk latihan…. Yah, mengingat dimana aku belajar saat ini kayaknya nggak bijak kalau aku terus-terusan mereview dari sudut pandang yang terlalu subjektif. So, I will try it. Mungkin akan sedikit berubah untuk film, tapi untuk novel belum ada rencana merubah caraku mereview. God, I’m so fucking fussy, just lets start right now.

The Fault in Our Stars merupakan sebuah film garapan Josh Boone yang merupakan adaptasi dari novel berjudul sama yang ditulis oleh John Meyer. Novel ini mendapat rating dan pembaca yang cukup banyak di goodreads, sebuah komunitas review and sharing books, dan jika melihat dari respon pembacanya, jelas buku The Fault in Our Stars menjadi worth untuk diangkat menjadi sebuah film. Untuk aku sendiri yang suka membaca novel, sayangnya nggak berani untuk membaca versi novelnya dikarenakan entah darimana I know it’s not my cup of tea, jadi aku memutuskan hanya akan menonton versi filmnya.

Review: The Secret

Sabtu, Januari 16, 2016

MAAF SEMUA BOOK REVIEW PINDAH KE:HTTP://MYBOOKSPOILER.BLOGSPOT.COM

Film Paling Romantis: Chilling Romance (Spellbound)





Nyari film 2 jam yang romantis itu susaaaaah banget. Film yang romantis, happy ending, nggak gantung ceritanya, dan nggak cheesy. Hmm… ada berapa jenis film romantis yang aku tulis reviewnya di blog ini? Pasti dikit. Passstttii. Anyway, I found it one! Film pertama paling romantis di awal tahun ini, judulnya: Chilling Romance.

Oh, well, aku yakin kalian mau bilang kalo ini film lama kan? Iya, aku emang telat, telat banget nontonnya. Padahal taunya udah lama. Yah, emang dasarnya aku butuh sedikit motivasi dan dorongan untuk menonton sebuah film. Hahaha. Susah yaa bikin aku nonton film. Padahal kalo pinter nyekokin aja aku pasti nonton. Dan aku tipe orang yang harus nonton film yang pasti bagus, dan aku bukan tipe orang yang mau coba coba nonton film sebelum tau ceritanya. Hmm… terserah deh kalo mau bilang aku ini ribet.

Balik ke film ini..

Catatan Terbaru