Beberapa Review di blog ini sebagian besar merupakan spoiler. Persiapkan diri anda sebelum membuka artikelnya. Trimakasih. -author-

Review Film: Harmony (2010)

Jumat, Januari 29, 2016



Aku nonton film ini nggak langsung habis, dan nggak nyangka kalau aku bakal berakhir dengan mata bengkak ketika akhirnya memutuskan untuk meneruskan menonton film ini.

Lagi-lagi film korea berhasil membuatku sesak nafas dan menangis tersedu-sedu karena semua emosi yang dimunculkan dalam film ini.

Kali ini aku nggak akan nulis panjang lebar, karena sejujurnya, aku nggak sanggup. Film ini terlalu sedih... terlalu mengaduk-aduk emosi. Betatapun aku mencoba untuk menahan tangis, jadinya aku tetap harus sesenggukan.

Review Film: The Grand Budapest Hotel

Minggu, Januari 24, 2016




The Grand Budapest Hotel ini film yang direkomendasikan oleh dosenku di mata kuliah penulisan naskah, sehingga ketika aku akhirnya memutuskan untuk menonton sebenarnya aku berharap akan menemukan jenis penuturan cerita yang unik.

Ah ya, ternyata dari segi bercerita, film ini memang unik. Aku bahkan harus mengulang lagi dari awal karena ketika sampai di akhir di kepalaku masih muncul banyak pertanyaan. Setelah aku mencoba mengulang dan memahami film ini, syukurlah aku akhirnya mengerti juga. Penuturan ceritanya dibuat tiga lapis. Pertama dari seorang gadis yang membaca sebuah buku milik The Author, kemudian di buku itu ada foto The Author dan masuk ke dalam sudut pandang The Author yang bercerita tentang kisahnya ketika ia berkunjung ke Grand Budapest Hotel dan bertemu dengan Zero Mustafa pemilik hotel yang menceritakan kisah perjalanannya hingga memiliki hotel mewah tersebut. Mudah dimengerti kok, nggak terlalu membingungkan, cuma memang unik. Bahkan di awal karena saking bingung apa maksudnya cerita berlapis-lapis kayak gitu akhirnya aku cuma ngikutin aja ceritanya sampai mengerti sendiri.

Ada kesadaran lainnya ketika aku menonton film ini yang ternyata tidak hanya terletak di segi cerita, ada yang jauh lebih ditonjolkan dari hal tersebut. Emm… ini pertama kali aku menonton film Wes Anderson sehingga jujur saja masih belum mengerti benar ciri khas dari filmnya. Dan ternyata ciri khas Wes Anderson adalah permainan sinematografi yang sangat indah.

Disepanjang film yang diceritakan mundur hingga ke tahun 1935 kalau tidak salah, kita disajikan 2 aspek rasio yaitu 16:9 dan 4:3, well, aku nggak benar-benar mengerti apa maksudnya, tapi aku mencoba menyimpulkan bahwa itu mengikuti jarak ceritanya dari masa kini ke masa lalu yang sangat jauh. Ah ya, jadi kembali ke tahun 1935-an itu, dengan aspek rasio 4:3, hal lain yang sangat terasa pada film Wes Anderson adalah penataan artistik yang sangat lengkap, rapih, dan eye catching. Rasanya kita menonton film ini tidak hanya difokuskan oleh cerita, tapi banyak kali lebih difokuskan kepada visualnya yang sangat cantik, dengan warna-warninya yang harmonis, dan terutama tatanannya yang selalu membuatku kagum. Belum lagi pengambilan gambarnya yang selalu terlihat simetris, benar-benar memanjakan mata dan fokus kepada objek utama tapi selalu seimbang, dan itu membuat film ini terasa indah.

Dan hal unik lainnya adalah ritme film ini, juga musik yang digunakan. Aku jadi keingetan film-film bisu dan film-film lama yang dikasih musik, jenis musik yang digunakan sejenis dengan film ini. Ah, rasanya jadi seperti kembali menyaksikan film-film pada sejarah film itu sendiri. Dan ritmenya juga mirip, bahkan disaat-saat serius pun film ini tetap menggunakan ritme yang terasa menghibur dan lucu, seolah mengajak penontonnya untuk terus tersenyum apapun keadaannya.

Agak sulit mengikuti kekacauan ceritanya yang cukup absurd, kalimat-kalimat yang sering digunakan pemainnya juga seringkali bikin cengoh karena nggak terserap dengan baik dikepala, tapi jelas film ini sulit untuk di skip karena sekali lagi ada banyak unsur lain yang memaksa kita untuk tekun menonton film ini. Em, film ini cukup jeli juga sehingga banyak hal yang awalnya tidak begitu kuhiraukan akhirnya kuputar ulang dan mendapati bahwa hal-hal tersebut ternyata cukup penting.


Tidak ada pesan yang berarti, tapi sebagai hiburan, film ini sangat menghibur tidak meninggalkan rasa sedih teramat dalam ataupun membuat kita memikirkan hal-hal yang rumit. Film ini sangat sederhana dan imajinatif, sangat cocok sebagai hiburan dan pelarian diri dari dunia nyata.



Salam, ADLN_haezh

Review Film: Very Ordinary Couple (2013)

Jumat, Januari 22, 2016


Such a simple movie!

Dan menurutku film ini menjadi luar biasa karena kesederhanaannya. Tapi sebelum itu, aku ingin memberikan tepuk tangan kepada sang DOP.

That’s sooo beautiful.

Kalau dilihat sekilas, kita mungkin cuma melihat pengambilan gambar yang sebagian besar hand held seolah ini adalah sebuah film dokumenter. Tapi sebenarnya pengambilan gambar secara hand held ini membantu kita untuk masuk ke dalam cerita secara langsung, seolah kita adalah yang merekam adegan-adegan tersebut. Ritme film ini diawal terasa sangat cepat, cuttingnya cepat, dialognya cepat, dan itu sangat membantu kita ikut merasakan amarah yang sedang dibawa oleh pemainnya pada saat itu. Dan tidak ada shot yang mubazir, semuanya efektif dan bahkan shot-shotnya sendiri bercerita dengan cara yang unik sehingga kita mengartikannya dengan sudut pandang yang berbeda. Entah kenapa aku sendiri merasa otakku ikut membaca shot-shot yang dibawa film ini, misalnya aja adegan ketika Deputi  Park membantu menjadi perantara ketika Young ingin bertanya pada Lee. Kita hanya dilihatkan Park bertanya pada Lee, tidak diperlihatkan ketika Young memintakan menyampaikan pesannya untuk disampaikan kepada Lee, hanya dilihatkan ketikan Park kembali ke meja Young setelah itu tapi shot berikutnya ia sudah bertanya lagi kepada Lee. Cerdas.

Review Film: The Fault in Our Stars


Ehm… kali ini aku akan membahas sebuah film yang cukup terkenal, The Fault in Our Stars, dimana film ini sebenarnya tayang pada tahun 2014 lalu tapi sayangnya aku baru nonton hari ini. Okay, it’s my bad

However, better now than never, right?

Dan kali ini aku ingin mencoba merubah sudut pandang dalam mereview film, karena beberapa alasan dan ini juga baik untuk latihan…. Yah, mengingat dimana aku belajar saat ini kayaknya nggak bijak kalau aku terus-terusan mereview dari sudut pandang yang terlalu subjektif. So, I will try it. Mungkin akan sedikit berubah untuk film, tapi untuk novel belum ada rencana merubah caraku mereview. God, I’m so fucking fussy, just lets start right now.

The Fault in Our Stars merupakan sebuah film garapan Josh Boone yang merupakan adaptasi dari novel berjudul sama yang ditulis oleh John Meyer. Novel ini mendapat rating dan pembaca yang cukup banyak di goodreads, sebuah komunitas review and sharing books, dan jika melihat dari respon pembacanya, jelas buku The Fault in Our Stars menjadi worth untuk diangkat menjadi sebuah film. Untuk aku sendiri yang suka membaca novel, sayangnya nggak berani untuk membaca versi novelnya dikarenakan entah darimana I know it’s not my cup of tea, jadi aku memutuskan hanya akan menonton versi filmnya.

Review: The Secret

Sabtu, Januari 16, 2016

MAAF SEMUA BOOK REVIEW PINDAH KE:HTTP://MYBOOKSPOILER.BLOGSPOT.COM

Film Paling Romantis: Chilling Romance (Spellbound)





Nyari film 2 jam yang romantis itu susaaaaah banget. Film yang romantis, happy ending, nggak gantung ceritanya, dan nggak cheesy. Hmm… ada berapa jenis film romantis yang aku tulis reviewnya di blog ini? Pasti dikit. Passstttii. Anyway, I found it one! Film pertama paling romantis di awal tahun ini, judulnya: Chilling Romance.

Oh, well, aku yakin kalian mau bilang kalo ini film lama kan? Iya, aku emang telat, telat banget nontonnya. Padahal taunya udah lama. Yah, emang dasarnya aku butuh sedikit motivasi dan dorongan untuk menonton sebuah film. Hahaha. Susah yaa bikin aku nonton film. Padahal kalo pinter nyekokin aja aku pasti nonton. Dan aku tipe orang yang harus nonton film yang pasti bagus, dan aku bukan tipe orang yang mau coba coba nonton film sebelum tau ceritanya. Hmm… terserah deh kalo mau bilang aku ini ribet.

Balik ke film ini..

Catatan Terbaru