Beberapa Review di blog ini sebagian besar merupakan spoiler. Persiapkan diri anda sebelum membuka artikelnya. Trimakasih. -author-

Review Film: The Fault in Our Stars

Jumat, Januari 22, 2016


Ehm… kali ini aku akan membahas sebuah film yang cukup terkenal, The Fault in Our Stars, dimana film ini sebenarnya tayang pada tahun 2014 lalu tapi sayangnya aku baru nonton hari ini. Okay, it’s my bad

However, better now than never, right?

Dan kali ini aku ingin mencoba merubah sudut pandang dalam mereview film, karena beberapa alasan dan ini juga baik untuk latihan…. Yah, mengingat dimana aku belajar saat ini kayaknya nggak bijak kalau aku terus-terusan mereview dari sudut pandang yang terlalu subjektif. So, I will try it. Mungkin akan sedikit berubah untuk film, tapi untuk novel belum ada rencana merubah caraku mereview. God, I’m so fucking fussy, just lets start right now.

The Fault in Our Stars merupakan sebuah film garapan Josh Boone yang merupakan adaptasi dari novel berjudul sama yang ditulis oleh John Meyer. Novel ini mendapat rating dan pembaca yang cukup banyak di goodreads, sebuah komunitas review and sharing books, dan jika melihat dari respon pembacanya, jelas buku The Fault in Our Stars menjadi worth untuk diangkat menjadi sebuah film. Untuk aku sendiri yang suka membaca novel, sayangnya nggak berani untuk membaca versi novelnya dikarenakan entah darimana I know it’s not my cup of tea, jadi aku memutuskan hanya akan menonton versi filmnya.



Kalau dilihat dari judulnya, kelihatannya film ini akan mengarah ke kisah drama yang menyedihkan, tapi sebenarnya aku mendapati bahwa film ini justru menyenangkan. Bercerita tentang seorang gadis bernama Hazel Grace Lancaster (Shailene Woodley) yang menderita penyakit kanker dan telah menyebar ke paru-parunya saat ini, kemudian ia bertemu dengan seorang cowok bernama Augustus Waters (Ansel Elgord) yang juga memiliki sebuah penyakit kanker dengan jenis berbeda dari Hazel tapi kanker yang dimiliki Augustus sempat membuat salah satu kakinya diamputasi. Keduanya bertemu dalam sebuah kelompok pendukung yang di dalamnya berisikan orang-orang dengan perjalanan yang sama dan ini sebenarnya mmebuat Hazel kesal tetapi kemudian komunitas tersebut menjadi lebih menyenangkan setelah ia bertemu dengan Augustus. Agustus sendiri adalah tipe orang yang ingin melakukan hal besar agar dirinya diingat, berbeda dengan Hazel yang justru tidak peduli apakah orang lain akan mengingatnya atau tidak karena ia membutuhkan orang yang mengingatnya cukup orang-orang yang ia sayangi. Hazel memiliki sifat yang apa adanya dan sangat menyadari seperti apa kondisinya, tidak memiliki banyak teman, menjalani berbagai perawatan, dan minum obat setiap hari, tapi ia menganggap hal itu sebagai hal yang normal baginya dan ia selalu menyadari bahwa setiap orang akan meninggal pada akhirnya.  Awalnya pertemuan Hazel dan Augustus didasari oleh ketertarikan Augustus yang merasa Hazel sangat cantik dan akhirnya percakapan keduanya membuat ketertarikan keduanya menjadi semakin intim.

Aku belum melihat versi bukunya, tapi dari apa yang sudah aku perhatikan dari sebuah film yang mengadaptasi dari sebuah buku biasanya tidak banyak yang bisa menghadirkan sebuah emosi yang kuat karena harus berkutat dengan deskripsi dan dialog dalam novel sehingga ada keinginan untuk mengeluarkan semuanya sekaligus dalam film, tapi tentu saja itu tidak mungkin. Untuk perbandingan, belakangan ini aku menonton film Jepang yang beberapa diadaptasi dari komik dan harus akui aku mendapati banyak bagian yang tidak menunjukkan emosi yang kuat dan berakhir flat padahal jelas kalau sampai komik itu difilmkan berarti ada kekuatan emosi yang harus diangkat. Yah, aku jelas nggak bisa bilang kecewa sama film garapan Josh Boone ini karena aku sangat menikmati semua adegan yang disajikan sang sutradara dan berhasil membuatku mengikuti permainannya dalam meracik bumbu romansa dalam dua karakter yang mengalami penyakit cukup parah.

Sejujurnya ketika aku tahu bahwa film ini bercerita tentang seseorang yang memiliki sakit kanker, yang ada dipikiranku adalah kisah haru-biru yang memaksa kita melihat perjuangan seseorang dalam menghadapi penyakitnya dan perasaan orang-orang yang senantiasa di sampingnya untuk memberikan dukungan.  Kupikir aku akan melihat banyak adegan rumah sakit, bersedih, meratapi hidupnya yang hanya sebentar dan ingin membuat perubahan untuk detik-detik terakhir hidupnya. Kalau kamu adalah sebagian orang yang berfikiran sama sepertiku, lebih baik buang-buang pikiran itu karena film ini menyuguhkan pemandangan yang sangat berbeda dengan apa yang ada dibayanganku.


Justru cerita ini membuat aku berfikir bahwa karakter yang seharusnya ‘sakit’ malah tidak terlihat sakit sama sekali. Meskipun sepanjang film kita akan melihat Shailene Woodley memakan selang oksigen tapi bukan berarti kita akan melihat dirinya sedikit-sedikit kehabisan nafas karena selang tersebut digunakan untuk menunjukkan bahwa Hazel memiliki alat bantuk untuk menjalani kehidupannya sama seperti halnya seorang yang memakai kacamata.  Hal yang sama berlaku untuk Augustus yang sama sekali tidak seperti orang sakit dimanapun dan apapun keadaannya. Entah kenapa aku mendapati semua adegan yang disajikan Boone disini tidak membuatku khawatir akan adanya granat yang meledak, seperti pada film-film yang mengangkat tema yang sama dimana kita akan terus khawatir kalau pemainnya tiba-tiba sakit parah dan bisa jadi setengah film kita akan melihat karakter ini terbaring di rumah sakit. Well, I just watched that kind of movie, so I can’t make myself like that idea in another movie.

Ah ya, bukan berarti adegan rumah sakit itu tidak ada… ada memang, tapi tetap tidak membuatku khawatir atau takut, entah kenapa perasaan yang ada ketika aku melihat adegan rumah sakit adalah… hanya ketulusan yang disajikan secara lembut oleh karakter-karakternya. Aku begitu terbawa oleh karakter Hazel Grace yang menganggap bahwa rumah sakit hanya sesuatu yang biasa, bukan sesuatu yang menakutkan, dan bagaimana ia bahkan bisa tetap berfikir logis untuk mengejar apa yang ia inginkan meskipun saat itu keadaannya sama sekali tidak mendukung. Ketidaktakutan Hazel terhadap kematian dan rasa sakit yang amat sangat mengajakku untuk tidak takut dengan apa yang akan terjadi pula.

Kemudian film ini juga fokus kepada kisah cintanya, tidak semerta-merta menjadikan penyakit sebagai sebuah penguat untuk romantisme yang dihadirkan pasangan Hazel dan Augustus, tetapi sebuah sampingan dan pendukung dari semua dialog yang dimunculkan disepanjang film, pikiran-pikiran cerdas Hazel dari pengalamannya yang menderita kanker, kelucuannya, ketidakpeduliannya, kemarahannya, sindiran, dan semangatnya yang membuat kisah ini menjadi begitu indah. Hazel dan Augustus sangat mencintai satu sama lain, tetapi juga selalu mengingatkan kita bahwa cinta mereka tidak akan berlangsung lama dengan dialog-dialog cerdas Hazel dan Augustus yang membuat kita menjadikan waktu keduanya bersama menjadi waktu untuk tidak memikirkan kehilangan satu sama lain, bahkan kematian terkesan menjadi sebuah tempat yang tidak lagi menakutkan.


Meskipun begitu, sebagai sebuah film, tentu saja kita diwanti-wanti untuk menunggu akhir kisah cinta mereka yang sedih, dan film ini mampu meletakkan klimaks itu dengan sangat indahnya. Aku sangat suka bagaimana film ini dibangun dengan narasi dan sudut pandang Hazel dengan kalimat-kalimatnya yang bercerita, membuat kita merasa tenang sekaligus terhibur dari caranya bertutur. Semua adegan berjalan sangat mulus, bahkan konflik-konfliknya pun diracik dengan halus sehingga tidak langsung membuat kita kaget. Emm.. yah, dibilang kejutan memang film ini kelihatannya tidak mau fokus dengan munculnya kejutan karena semuanya sudah dijelaskan di adegan-adegan sebelumnya sehingga kita memang tahu apa yang akan terjadi nanti. Meskipun begitu film ini, dengan keromantisannya dan harmonisasi kedua karakter dan alurnya membuatku tidak bisa berhenti menontonnya. Semuanya terasa sangat manis, bahkan ketika kejutannya akhirnya terkuak, memang tidak terlalu mengejutkan tapi tetap membuatku meneteskan air mata. Ketika cerita menuju klimaks yang diawali oleh penggawatan yang cukup jelas sekaligus tetap terasa indah, film ini lagi-lagi membuatku menangis karena emosi setiap pemainnya. Hazel dan Augustus selama ini selalu mencoba positif dan bersemangat, berani dalam menjalani kehidupan mereka yang singkat, tetapi keduanya juga berbagi rasa sakit yang sama dan mungkin itulah kekuatan utama dari film ini. Mungkin karena keduanya sama-sama sakit, aku merasakan keduanya saling amat mengerti, amat sangat mengerti satu sama lain, dan bahkan ketika mereka menangis bersamapun aku bisa melihat betapa itu adalah hal yang mereka bagi satu sama lain. Kalau hanya seorang yang sakit, mungkin aku tetap akan menganggapnya sebuah cerita yang sad ending, tapi ketika keduanya berada di jalan yang sama, mereka mengatakan kata ‘tidak adil’ kepada dunia untuk mereka berdua, bukan untuk salah satunya.


Film ini memiliki banyak nilai positif untuk memandang dunia dengan berani apapun keadaannya. Meskipun memang penyakit menyebabkan hazel tidak bisa melakukan hal-hal yang dilakukan anak normal pada umumnya, tapi ia memiliki kebebasan yang merupakan pilihannya sendiri dan aku sangat menyukai kebijakan yang diselipkan disana-sini dalam film ini. Terakhir, aku sangat menyukai cara Hazel dan Augustus membuat keputusan untuk keduanya di akhir, sebuah cara yang sangat indah seperti menjadi pembicara pemakaman. Awalnya terdengar mengerikan dan mengenaskan, tapi sebenarnya itu merupakan cara yang meskipun menyakitkan tapi sungguh sangat menyentuh untuk membuat keduanya merasakan satu sama lain. Keinginan untuk menghilangkan segala kekhawatiran untuk akhir hidup mereka. Oh, I really love Hazel and Augustus….


Nilai: 4/5

Salam, ADLN_haezh

Tidak ada komentar :

Posting Komentar

Syarat menambahkan komentar:

>> Jangan berkomentar dengan menggunakan Anynomous
>> Gunakan account google kamu atau jika tidak gunakan URL, yang penting ada nama kalian.. :)
>> Tidak menerima komentar berisi spam..
>> Apabila komentar tidak muncul, berarti komentar kalian belum di moderasi. Jadi tolong mengerti ya.. :)

terimakasih

-------------------------------------||-------------------------------------

Regulation to fill the comment box:

>> Don't use Anynomous
>> Use your google account or just your link/ URL. The main point is, always put your name here :)
>> Cannot receive any spam comment such as comment that it's not relevant with my topic
>> When your comment does not appear, it because I haven't approve that or I haven't read that. So just wait until I read that, please understand :)

Thank you

Catatan Terbaru