WARNING

Beberapa Review di blog ini sebagian besar merupakan spoiler. Persiapkan diri anda sebelum membuka artikelnya. Trimakasih. -author-
Resensi Film: Film Review

Review Film: Very Ordinary Couple (2013)

Januari 22, 2016


Such a simple movie!

Dan menurutku film ini menjadi luar biasa karena kesederhanaannya. Tapi sebelum itu, aku ingin memberikan tepuk tangan kepada sang DOP.

That’s sooo beautiful.

Kalau dilihat sekilas, kita mungkin cuma melihat pengambilan gambar yang sebagian besar hand held seolah ini adalah sebuah film dokumenter. Tapi sebenarnya pengambilan gambar secara hand held ini membantu kita untuk masuk ke dalam cerita secara langsung, seolah kita adalah yang merekam adegan-adegan tersebut. Ritme film ini diawal terasa sangat cepat, cuttingnya cepat, dialognya cepat, dan itu sangat membantu kita ikut merasakan amarah yang sedang dibawa oleh pemainnya pada saat itu. Dan tidak ada shot yang mubazir, semuanya efektif dan bahkan shot-shotnya sendiri bercerita dengan cara yang unik sehingga kita mengartikannya dengan sudut pandang yang berbeda. Entah kenapa aku sendiri merasa otakku ikut membaca shot-shot yang dibawa film ini, misalnya aja adegan ketika Deputi  Park membantu menjadi perantara ketika Young ingin bertanya pada Lee. Kita hanya dilihatkan Park bertanya pada Lee, tidak diperlihatkan ketika Young memintakan menyampaikan pesannya untuk disampaikan kepada Lee, hanya dilihatkan ketikan Park kembali ke meja Young setelah itu tapi shot berikutnya ia sudah bertanya lagi kepada Lee. Cerdas.



Atau ketika adegan dimana Lee dan Young bertengkar di awal hingga melakukan hal yang kejam satu sama lain. Woah, kecepatan ritmenya ikut membuatku ngos-ngosan jujur saja, karena aku ikut terbawa tensinya yang naik pada saat itu. Ditambah dengan scoring yang mendukung, shot yang sangat amat efektif, untuk beberapa adegan diawal berhasil membuatku mengulang-ulang adegannya, bukan karena aku tidak mengerti, tetapi karena aku terpukau dengan cara film ini bercerita. Sebagai sebuah pembuka, film ini nyaris membuatku ingin langsung memberikannya bintang penuh.

Very Ordinary Couple sejak awal sudah menampilkan sebuah nuansa natural, dari warna gambarnya sendiri yang lembut tetapi tetap tajam. Kita diajak memahami bahwa sesuai konsepnya, film ini mengusung kesederhanaan, karena itu pengambilan gambarnya pun terkesan sederhana, goyangan disana-sini, yang sekilas kita akan melihat hal tersebut dilakukan oleh orang yang mengikuti karakter kemanapun mereka pergi tapi sebenarnya itu untuk memberikan kita penguatan atas konsep apa adanya dalam film ini. Ya, film ini kelihatannya mencoba untuk tetap istimewa meskipun secara segi cerita tidak ada sesuatu yang special.

Sangat sesuai dengan judulnya, Very Ordinary Couple merupakan cerita tentang dua orang pasangan yang tidak berbeda dari pasangan lainnya, pasangan yang biasa saja. Kejadian seperti putus-nyambung merupakan hal yang biasa terjadi dan kita saksikan di sekitar kita. Dan unsur kedekatan ini membuat kita mampu memahami segala sesuatu yang terjadi kepada setiap karakter. Disini kita juga ikut merasakan alasan-alasan masuk akal yang lagi-lagi sering terjadi kepada pasangan yang akhirnya mengakhiri hubungan mereka, dan kemudian kembali lagi dan apa yang berbeda dari keduanya. Kita juga mengerti perasaan ketika dua orang yang bersama lagi mencoba untuk melakukan hal yang sebaik mungkin agar tidak bertengkar tetapi hal itu justru membuat mereka muak. Terkadang memang kenyataan tidak sesuai dengan apa yang dibayangkan mengenai suatu hubungan, meskipun saling mencintai, tetapi jelas penopangnya tidak hanya cukup sebuah cinta untuk membuat sebuah hubungan berjalan. Kita diajak mengerti hal-hal tersebut, bukan memandang bahwa orang yang putus itu selalu berarti tidak saling mencintai, tetapi ada yang putus karena cinta tidak cukup untuk mereka, yang sayangnya itu adalah sesuatu yang benar. Agak sedih memang karena ceritanya terlalu dekat dengan kehidupan, menghilangkan segala imajinasi kita yang ingin menikmati film untuk lari dari kehidupan dunia nyata, dan dipaksa untuk memahami hingga mengerti keputusan-keputusan yang diambil oleh setiap karakter. Anyway, eksekusinya yang membuatku justru malah menyukai film ini. Termasuk pemilihan aktor dan pengambilan gambarnya yang istimewa, meskipun secara cerita sebenarnya cukup biasa saja.


Film ini menggunakan metode wawancara dalam penceritaannya, kemudian dihubungkan dengan cerita dibalik wawancara tersebut. Menariknya adalah, ketika penggunaan wawancara ini digunakan untuk memperlihatkan kemunafikan para pemainnya, seolah pemainnya ini artis terkenal yang putus dari pacarnya, kemudian diwawancara, dan kemudian diam-diam kita diperlihatkan apakah yang mereka katakan sesuai dengan kenyataan atau tidak, karena itu kita diperlihatkan kisah dibalik setiap wawancara. Lucunya, ternyata karakternya cukup munafik di awal. Seolah yang kita baca dari filmnya adalah, di depan orang lain, termasuk di depan kamera mereka bersikap seolah tidak terjadi apa-apa, atau saling mendukung, memperlihatkan karakter yang kuat, tegar, dan meyakinkan. Tapi ketika kita melihat cerita dibaliknya atau bagaimana mereka bersikap ketika sedang sendirian, rasanya semuanya bullshit. Beda jauh. Honestly, that’s also what makes this movie feels so beautiful. Kita diperlihatkan adegan-adegan yang seperti koin, satu paket tapi bertolak belakang. Dan itu membuat film ini menjadi... yaah, bukan lucu, tapi membuatku gemas dan geregetan. Tapi film ini juga menunjukkan bahwa karakternya berkembang menjadi lebih baik dan lebih bijak, yang membuat sedih, tapi juga membuat kita ikut mengangguk setuju.

Untuk film sepanjang 2 jam, kita tidak akan diperlihatkan kisah khas drama korea bertemakan sama dan akan melihat banyak kepedulian dari karakternya ataupun keromantisan dari karakter yang akhirnya berbaikan setelah putus. Film ini fokus untuk memperlihatkan unsur ‘ketidakharmonisan’ sehingga hal-hal diluar itu tidak akan terlalu ditonjolkan. Kita lebih sering  diajak untuk merasakan rasa sakit, muak, kesal, marah, dan perasaan negatif lainnya sekaligus ingin mengakhiri hubungan mereka, tetapi juga ikut merasakan keinginan untuk kembali bersama. Ya, hal-hal itu berhasil disampaikan film ini dengan baik. Film ini membuat kita mengikuti semua jalinan emosi yan rumit dalam cerita yang sederhana, menjadikan film ini istimewa. Tentu saja hal tersebut didukung oleh akting para pemainnya sehingga emosi tersampaikan dengan baik. Dan jelas sutradara yang paling memegang peranan cukup penting dalam eksekusi akhir cerita sehingga film ini menjadi kisah sederhana yang dikemas secara istimewa.

Akhir kata, film ini cukup memuaskan, memberikan kita gambaran dalam sebuah hubungan yang palingsering terjadi di kehidupan nyata, pasangan yang sangat biasa saja yang pada dasarnya merupakan pasangan-pasangan yang tidak terlihat menonjol. Ini cukup mengingatkanku pada cerita-cerita yang ditulis Ika Natassa dalam novel-novelnya yang mengusung cerita yang sama meskipun dikemas dengan cara yang lebih romantic.


Nilai: 4/5

Salam, ADLN_haezh

You Might Also Like

0 komentar

Syarat menambahkan komentar:

>> Jangan berkomentar dengan menggunakan Anynomous
>> Gunakan account google kamu atau jika tidak gunakan URL, yang penting ada nama kalian.. :)
>> Tidak menerima komentar berisi spam..
>> Apabila komentar tidak muncul, berarti komentar kalian belum di moderasi. Jadi tolong mengerti ya.. :)

terimakasih

-------------------------------------||-------------------------------------

Regulation to fill the comment box:

>> Don't use Anynomous
>> Use your google account or just your link/ URL. The main point is, always put your name here :)
>> Cannot receive any spam comment such as comment that it's not relevant with my topic
>> When your comment does not appear, it because I haven't approve that or I haven't read that. So just wait until I read that, please understand :)

Thank you

Like Us on Facebook

Followers