Beberapa Review di blog ini sebagian besar merupakan spoiler. Persiapkan diri anda sebelum membuka artikelnya. Trimakasih. -author-

Review Ending Drama 'Reply 1988'

Selasa, Maret 22, 2016


Ketika drama ini akhirnya mencapai ending, aku nangis. Bagian itu sedih, sediiih banget.

Emang sih, setiap dari mereka menemukan kebahagiaan mereka masing-masing, tapi itu nggak menutup kenyataan bahwa akhirnya kompleks yang sudah mereka tempati selama beberapa dekade akhirnya kosong dan sepi.

Udah gitu lagunya yang dipake di bagian ending bikin sedih, dan emosinya luar biasa.  Ini lagu kampret banget serius, bikin keingetan. Dan ini drama yang diakhiri dengan akhir bahagia sekaligus akhir yang sedih. Drama ini berhasil bikin kita ikut terbalut emosi tentang 'kenangan' yang dijadikan kunci paling kuat drama ini.

Drama Korea vs Waktu (Efek nonton Reply 1988)



Belakangan ini sepertinya aku sadar, kalau alasan aku lebih memilih nonton film yang langsung tamat daripada drama korea adalah.... takut kepikiran.

Aku suka banget nonton drama, jujur ya.. sukaaa banget. Aku suka momen-momen ketagihan dan kepikiran, termasuk momen aku jatuh cinta sama pemainnya, karakternya, alur ceritanya. 

Nah, dan perasaan itu muncul lagi setelah aku nonton drama Reply 1988. Aku sebelumnya sedang menonton drama Remember, tapi nggak kelar-kelar juga, lama pendingnya, dan begitu nonton Reply 1988 apalagi dengan bombardir feromonnya si Choi Taek, jadi nggak bisa berhenti. Dan itu, negatifnya bikin waktuku tersita bukan hanya habis untuk nonton dramanya, tapi juga habis karena waktuku jadi nggak bisa lepas dari bayang-bayang drama itu sendiri. Aku cukup lama menyelesaikan 20 episode, perihal mataku yang udah nggak sekuat dulu, jadi baru 3 jam nonton udah pusing kepalanya dan harus ditidurin, dan itu... bikin waktuku jadi tersita jauh lebih banyak. Meskipun nontonnya cuma beberapa jam, tapi efek bayang-bayangnya bisa seharian, dan untuk masa-masa kritisku dimana aku sedang kuliah ini, sebenarnya itu agak gawat. Aku jadi nggak bisa mengerjakan tugas lainnya karena belum selesai menonton dramanya, apalagi kalo udah gampang kangen sama karakter-karakternya, widiiih... nggak akan deh itu kegarap semua tugasnya.

Makannya, daripada drama, aku lebih condong nyelesein novel yang sama-sama ketagihan sih, tapi selesainya bisa cepet karena cuma satu buku dan nggak berepisode-episode. Trus kalo novel juga bayangin karakternya agak susah karena semuanya tertuang dalam bentuk tulisan, jadi nggak ada versi nyatanya. Beda sama drama, udah ada wajahnya, udah ada karakternya, dan yang nyakitin banget tuh tokoh kayak gitu tuh nggak mungkin ada di kehidupan nyata.

Catatan Terbaru