Beberapa Review di blog ini sebagian besar merupakan spoiler. Persiapkan diri anda sebelum membuka artikelnya. Trimakasih. -author-

Inception (Analisa Motif, Tata Rias, Busana)

Sabtu, Juli 30, 2016

Baru-baru ini karena nggak lagi nonton film atau nggak lagi baca novel juga, dan karena kelihatannya aku tetep pingin ngisi blogku dengan sesuatu, jadi boleh lah ya aku buang-buang tugas-tugasku kuliah. Daripada nggak ada yang baca menjamur di laptop? Iya nggak.

Jadi semester kemarin itu ada mata kuliah yang namanya "Filmologi" jadi belajar tentang teori film gitu deh, *dan sampe sekarang aku tetep nggak tau dapet apa di mata kuliah itu*, yang pasti selama semester itu sepanjang ingatanku aku kerjaannya disuruh menganalisis, dan yang dianalisis cuma boleh satu film dan itu adalah film yang paling aku sukai. Naaah, berhubung aku tuh suka banget sama Inception sampe aku teriak-teriak juga kan di blog ini, jadi yaudah deh aku pake film itu buat di analisis selama satu semester. 


ANALISIS 1: ANALISA MOTIF, TATA RIAS, dan BUSANA pada FILM INCEPTION

Jadi Motif itu adalah sesuatu yang dimunculkan berulang-ulang, dimaksudkan untuk memberikan kita kode visual terhadap apa yang tidak ditunjukkan secara lisan. Dan motif-motif ini nantinya akan berpengaruh kepada maksud dan inti cerita. Dan motif-motif ini biasanya ditunjukkan untuk membuat penontonnya bingung dan menyebabkan munculnya interprestasi ganda sehingga kemudian akan banyak kesimpulan dari film tertentu. Mengetahui motif tentu sangat terkait dengan kejelian kita dalam mengamati detail-detailnya, itulah mengapa Inception termasuk film yang harus fokus terus biar ngerti maksudnya.

1. Gasing: 
Gasing yang dipegang oleh Cobb disebut Totem muncul beberapa kali dalam adegan yaitu adegan ketika Cobb baru saja keluar dari mimpi, dan muncul ketika ia tengah bercerita tentang istrinya, Mal.

Keberadaan gasing/totem ini sebagai cara untuk tokoh (Cobb) agar ia bisa membedakan apakah dirinya masih berada di dalam mimpi atau dunia nyata. Keberadaan totem ini juga di ditunjukkan pada kisahnya dengan Mal, dimana benda itu awalnya adalah milik istrinya kemudian ia mengambil alih gasing tersebut untuk menanamkan ide pada istrinya bahwa dunia yang mereka tinggali bukan dunia nyata sehingga mereka bisa kembali ke dunia nyata dengan kesadaran tersebut.

Keberadaan gasing / totem ini muncul dari awal hingga akhir cerita, sebagai inti dari cerita itu sendiri mengenai mimpi/dunia nyata yang kemudian juga menjadi simpulan di akhir cerita.

2. Dua anak kecil: 
Dua anak kecil, anak perempuan dan laki-laki, muncul berulang kali dari awal hingga akhir film dengan pola yang sama mulai dari gerakan, posisi, hingga pakaian yang digunakan. Anak kecil ini diceritakan sebagai anak dari Cobb (pemeran utama) yang ia tinggalkan di Amerika karena Cobb di blacklist dari negaranya dan harus pergi ke luar negeri. Kedua anak ini merupakan motif terbesar Cobb untuk menjalankan seluruh adegan/kejadian yang diceritakan dari awal hingga akhir film, karena dalam film diceritakan bahwa untuk bisa kembali ke negaranya dan kepada anak-anaknya, Cobb harus menerima misi terakhirnya untuk menamkan sebuah ide.

3. Mal: 
Mal adalah istri dari Cobb yang sudah meninggal muncul berkali-kali dari awal hingga akhir, kebanyakan ketika adegannya sedang dalam mimpi. Mal diceritakan sebagai proyeksi dari alam bawah sadar Cobb, sebagai masa lalu yang ditampilkan dalam bentuk flashback, atau dimunculkan sebagai bayangan yang sering muncul tiba-tiba. Kematian istrinya yang disebabkan oleh keputusan Cobb untuk menanamkan ide kepadanya membuat kenangan istrinya dan rasa bersalah menggerogoti Cobb hingga saat ini. Rasa bersalah itu memunculkan Mal dalam bentuk proyeksi di setiap mimpinya dan seringnya membuat Cobb tidak fokus karena ia berulang-ulang lupa bahwa istrinya sudah meninggal, bahkan di beberapa adegan menjadi penghalang untuk misi-misi Cobb. Di dalam alam bawah sadar mimpi miliknya sendiri, Cobb juga membuat kenangan khusus istrinya yang dibentuk dalam sebuah lift. Masih dengan alasan istrinya ini juga Cobb berhenti untuk mendesai mimpi dan meminta orang lain untuk mendesain mimpi yang akan ia masuki hanya agar ia tidak diganggu oleh proyeksi istrinya tersebut.

4. Jam Tangan: 
Jam tangan dimunculkan berkali-kali, khususnya sebagai pengingat atau penanda waktu mereka di dalam mimpi. Jam tangan juga disimbolkan dalam film ini sebagai inti utama dalam setiap mimpi terutama mimpi dengan jenis bertingkat, karena setiap 5 menit = 1 jam dan berlaku kelipatan di setiap mimpi yang bertingkat. Jam diartikan sebagai waktu, pengingat, itulah kenapa waktu merupakan hal yang paling krusial dalam film tersebut. Waktu bisa membuat seseorang melupakan kenyataan, waktu harus membuat mereka harus efektif dalam bekerja, sehingga banyak sekali diperlihatkan gerakan jam sebagai penanda bahwa waktu mereka sudah hampir habis atau justru masih sangat lama.

5. Koper berisi obat bius/penenang: 
Koper dengan alat bius ini dimunculkan berulang-ulang sebagai alat utama bagi semua pemain untuk berbagi mimpi. Alat bius ini dibentuk dalam sebuah koper, karena praktis dan mudah dibawa kemana-mana bahkan mudah untuk langsung digunakan. Penggunaan alat bius ini adalah dengan menghubungkan satu selang ke setiap orang yang digabungkan untuk berbagi mimpi yang dan disatukan dengan satu obat bius. Penggunaannya juga harus dengan catatan ada orang lain yang menjaga alatnya, untuk memberikan sentakan ketika waktu tidur mereka sudah hampir habis.

6. Cincin: 
Cincin yang digunakan Cobb hanya dimunculkan ketika ia berada di dalam mimpi, hal tersebut bisa dilihat dari adegan yang dijelaskan secara nyata bahwa ia sedang berada mimpi dan ia juga sedang memakai cincin. Tetapi ketika diceritakan bahwa ia berada di dunia nyata, ia juga tidak menggunakan mimpi. Kekuatan dari cincin ini sendiri adalah sebagai salah satu cara film ini diakhiri, sama seperti totem yang sering muncul dalam film, cincin ini juga digunakan sebagai simpulan di akhir cerita.

7. Sentakan/Kick: 
Sentakan dijelaskan dan dimunculkan berulang-ulang di setiap adegan mimpi, terutama mimpi yang bertingkat. Penggunaan sentakan ini menjadi fungsi yang penting dalam mimpi setiap tokohnya agar mereka bisa dibangunkan meskipun waktu tidur mereka masih sangat lama. Penggunaan sentakan ini biasanya diperlihatkan dengan memainkan lagu dan memasangkan headset ke telinga pemimpi sehingga pemimpi sadar bahwa sudah saatnya mereka mempersiapkan diri untuk bangun.

8. Pistol:
Pistol merupakan benda yang juga dimunculkan berkali-kali, dan digunakan sebagai sebuah senjata yang selalu dibawa oleh Cobb, biasanya untuk membunuh ketika berada dalam mimpi agar subjek mati dan bisa bangun dari mimpinya. Keguanaan lain dari pistol tersebut adalah untuk membuatnya bunuh diri apabila ia menyadari bahwa dirinya masih berada dalam mimpi agar bisa bangun. 

B. TATA RIAS dan BUSANA
Penggunaan riasan dan busana dalam film ini dibagi berdasarkan setiap pemain utama:
1. Cobb: 

Tata Rias: Cobb diperlihatkan sebagai karakter yang tegas, pintar, percaya diri, sekaligus rapuh. Ia diperlihatkan dengan menggunakan riasan natural, sedikit kerutan terutama di tengah kedua mata, lipatan samar di bawah mata, rambut disisir ke belakang tetapi pada adegan dimana ia sedang melakukan action rambutnya akan berubah berantakan dan cenderung belah tengah, alis melengkung ke atas tebal di tepi ujung dan melebar dengan warna yang lebih pudar, kumis & janggut dicukur rapih, ada kerutan di daerah hidung tetapi samar, bulu mata tidak terlihat jelas dan lebih tegas berwarna hitam.

Busana: sebagian besar busana yang digunakan oleh Cobb adalah setelah jas dan kemeja di dalamnya, dan sepatu hitam dengan kaos kaki, dan aksesoris jam tangan. Warna-warna pakaian yang digunakan Cobb lebih cenderung berwarna gelap, mempertegas bahwa dirinya adalah orang yang rumit dengan masa lalu dan perasaan yang memiliki banyak penyesalan dan kesedihan. Di beberapa adegan yang lebih kasual, Cobb menggunakan jaket tetapi tetap memakai kemeja di dalamnya dengan beberapa kancing atas yang dibiarkan terbuka. Untuk adegan yang menunjukkan Cobb sebagai orang yang bekerja pada bidang ekstraksi mimpi ia menggunakan dasi tetapi untuk adegan biasa ia tidak memakai dasi. Bagian ketika Cobb menggunakan kaos (berkerah atau tidak berkerah) hanya muncul pada adegan ketika Cobb berada di mimpi yang berisi tentang kenangannya dengan Mal (dihubungkan dengan lift). Selain itu, Cobb selalu menggunakan cincin di setiap mimpi dan cincin tersebut tidak dimunculkan jika ia berada di dunia nyata.

2. Arthur:
Arthur merupakan tokoh dengan sifat yang ramah, tenang, pendambing Cobb, teliti, dan pintar. Ia karakter yang easy going, tetapi sopan. Ia tidak memiliki kumis atau janggut, wajahnya selalu terlihat bersih, riasannya natural, dan rambutnya dipotong pendek rapi dan disisir dengan rapi. Tidak banyak kerutan yang muncul di wajahnya dan Arthur terlihat jauh lebih muda dari Cobb sendiri, alisnya diatur polos dan terkesan lembut. Pakaian yang sering digunakan oleh Arthur adalah setelan jas pas badan, dengan kemeja yang dikancing hingga kancing teratas, dengan sepatu pantofel. Ketika ia tidak sedang mengenakan jasnya, biasanya ia menggunakan dalaman rompi/sweater di atas kemejanya, ia juga sering terlihat menggunakan dasi. Dasi yang digunakan oleh Arthur biasanya bermotif, di beberapa kesempatan ia juga sering menggunakan kemeja yang bermotif menunjukkan bahwa Arthur adalah karakter yang rapih dan suka variasi. Arthur selalu menggunakan jam tangan. 

3. Saito:
Tata rias Saito selalu mengesankan bahwa usianya sudah tua. Pada wajahnya terlihat beberapa kerutan di sekeliling mata, lipatan di bawah mata ada dua, dan kerutan di sepanjang hidung dan mulut. Ia memiliki kumis dan janggut, dan alisnya terlihat tipis. Tata rias yang digunakan Saito mengesankan bahwa ia adalah pemikir terlihat dari kerutan pada dahi dan disekeliling matanya. Busana yang sering digunakan oleh Saito adalah setelan jas yang rapih. Dari awal hingga akhir Saito selalu menggunakan jas, menunjukkan bahwa ia adalah seorang pengusaha yang sukses sehingga jenis setelan jas sudah menjadi pakaian yang biasa ia gunakan. Pada beberapa kesempatan Saito bahkan mengancingkan jasnya meskipun di dalamnya ia masih menggunakan rompi, hal tersebut menunjukkan bahwa kepribadian Saito sendiri tertatur, disiplin, dan penuh perhitungan.

4. Mal: 
Mal digambarkan sebagai seorang wanita dewasa, istri yang cantik. Pakaiannya dewasa, hampir di semua bagian Mal cenderung menggunakan baju terusan rok, lebih seringnya terlihat mengenakan gaun. Warna yang digunakan pada busanannya adalah warna yang gelap, menunjukkan kekelaman dari diri tokoh ini sendiri. Tata rias yang digunakan hanya sebatas garis lipat di atas mata dan di sekitar hidung yang agak samar, memperlihatkan kematangan usia tokoh ini.  Bulu mata panjang, alis ditarik diagonal ke atas. Ia menggunakan lipstick dengan warna-warna gelap. 

5. Anak-anak Cobb: 
Pakaian yang cenderung sama di setiap adegan karena hanya ada satu adegan yang dilakukan oleh anak-anak Cobb, yaitu penggunaan dress oleh anak perempuan dan kemeja kotak-kotak oleh anak lelaki. Tidak terlihat dari depan, baru di bagian di akhir diperlihatkan bahwa pakaianna berubah.

6. Adriene:
Adriene diperlihatkan sebagai gadis muda yang ceria dan penuh semangat hidup, mudah berbaur, lembut, keras, dan peduli terhadap sesama. Dari riasannya diperlihatkan dari bulu matanya yang panjang, blush on pada pipi yang memperlihatkan wajahnya yang berseri, penggunaan lipstick yang lembut dan halus, dan satu lipatan di atas mata, dan tanpa kerutan. Alis Adriene tebal menunjukkan bahwa ia cukup konsisten sekaligus keras kepala, rambutnya belah samping dan bergelombang, disisi rapih
.
Adriene selalu menggunakan pakaian yang tidak resmi, khas mahasiswa berupa atasan dan celana jins. Adriene cenderung menggunakan baju berlapis dua dan pada lapis luar seringkali ia menggunakan jaket atau pakaian lagi dengan potongan perut yang pendek sehingga memperlihatkan baju lapis yang digunakan dibaliknya, ia selalu menggunakan sepatu, dan akseseori yang selalu muncul adalah jam tangan dan ia selalu melilitkan kain/sapu tangan pada lehernya dengan bentuk V, memperlihatkan bahwa Adriene jenis mahasiswi yang santai, kasual, tetapi tetap fashionable.

7. Eames:
Eames memiliki sifat yang sangat santai, supel, dan mudah berbaur sesuai dengan pekerjaan yang memaksanya untuk menyamar dan membuat orang mempercayainya. Eames cenderung mampu fleksibel dengan suasana. Dari tata rias, Eames menumbuhkan kumis dan janggut, memiliki sekitar 4-5 kerutan di dahi, alis tebal melengkung, dan kerutan di sisi matanya. Sedangkan tata rambutnya disisr rapih dengan belah pinggir. Dari busana, dalam keadaan yang biasa dan kasual, ia tetap memakai jas tetapi biasanya ia menabrakan gaya setelan bajunya entah dari motif atau warnanya.  Kebanyakan ia menggunakan warna-warna yang terang dan busana yang digunakan terkadang dibiarkan tidak kencang, mempertegas kepribadiannya yang easy going dan simple. Tetapi pada sesi-sesi yang membutuhkan kemampuannya secara formal, Eames mengenakan setelan jas normal dengan warna monoton untuk memberikan kesan resmi.

8. Ficher: 
Ficher digambarkan sebagai ahli waris yang sedang dalam kondisi depresi karena kehilangan ayah yang hingga kematiannya tidak juga mengakui kemampuannya. Ia menggunakan riasan natural, bersih, rambut disisir rapih dengan belahan di tengah. Tidak dimunculkan kumis/janggut atau kerutan-kerutan di wajahnya, menunjukkan usia yang masih muda.

Busananya resmi, formal, di sebagian besar ia hanya di gambarkan menggunakan setelan jas hitam dan kemeja putih dengan dasi, dan dikancing rapih, lebih mencerminkan seseorang yang tengah bekerja di perusahaan dan sering menghadiri acara-acara formal seperti rapat.

9. Yusuf: 
Tata rias natural, rambut brantakan tetapi tidak kotor, tidak banyak kerutan, ada kumis dan janggut. Penggunaan busana santai, sweater dan dalaman, kalaupun ia memakai jas ia memakai jas dengan kualitas yan rendah dan warnah dalamannya terlihat sedikit lusuh, tidak rapih bahkan kemejanya seringkali dikeluarkan, Yusuf memiliki kesan sederhana yang diperlihatkan dari gaya busananya.

C. PENCAHAYAAN

1. Kekuatan
Pada film ini, pencahayaan difungsikan sebagai penegas dalam membentuk ruang dan waktu. Pencahayaan membantu penonton untuk mengidentifikasi apakah setting waktu cerita sedang berada pada waktu pagi, siang, atau malam. Selain itu penggunaan cahaya juga membantu kita untuk mengetahui kondisi cuaca yang digunakan oleh film tersebut. Pencahayaan membentuk dimensi sebuah ruang dan benda. Sebagian besar adegan dalam film tersebut menggunakan cahaya soft light sehingga memberikan kesan lembut dan menyebarkan cahaya sehingga bayangan yang dihasilkan tipis. Kebanyakan adegan menggunakan teknik three point lighting sehingga objek terlihat memiliki 3 dimensi pada wajahnya.

2. Arah (depan, belakang, atas, bawah, utama, sisan)
Arah cahaya yang sebagian besar digunakan cenderung menampilkan bayangan ke arah samping/sisian tubuh karakter atau bayangan pada wajah. Pada adegan-adegan indoor yang membutuhkan sedikit cahaya dan hanya mengandalkan cahaya matahari sebagai cahaya utama, kontras bayangan yang dihasilkan dari side light pada wajah terlihat jelas, tetapi pada adegan-adegan yang mengutamakan sumber matahari yang banyak, bayangan dari sisi samping tidak terlihat terlalu kontras meskipun bayangannya tetap ada untuk memberikan efek 3 dimensi wajah.

3. Sumber
Cahaya yang muncul bersifat natural. Pada lokasi-lokasi indoor yang memiliki lebih banyak kaca, sumber cahaya berasal dari matahari yang menembus kaca-kaca tersebut sehingga cahaya dalam ruangan cenderung menunjukkan high key, dan menyamarkan bayangan meskipun pada wajah kita tetap akan melihat adanya kesan gelap dari sisi samping. Kalaupun ada adegan indoor dengan suasana siang hari dimana sumber cahaya utama juga dari matahari, maka efek low key akan lebih terlihat. Untuk suasana malam, sumber cahaya berasal dari lampu.

4. Warna
Sebagian besar adegan yang bersifat indoor dan membutuhkan lebih banyak cahaya lampu daripada matahari, warna yang dhaslikan adalah warna-warna yang hangat. Warna dari lampu biasanya ditunjukkan dengan warna gambar yang cenderung kuning/orange/merah. Untuk adegan indoor yang memiliki banyak kaca sehingga cahaya matahari mudah masuk ke ruangan, warnanya menjadi lebih dingin dan menghasilkan warna yang cenderung putih. Warna yang cenderung putih juga ditunjukkan pada situasi outdoor dan keadaan cuaca cerah. Sedangkan untuk situasi outdoor terutama dengan cuaca yang buruk seperti hujan/mendung, warnanya akan cenderung kebiru-biruan.


Wits, masih ada sekitar 2 post lagi masih tentang Incpetion. Untuk postingan selanjutnya yaa.
Salam, Adlina Haezah

Tidak ada komentar :

Posting Komentar

Syarat menambahkan komentar:

>> Jangan berkomentar dengan menggunakan Anynomous
>> Gunakan account google kamu atau jika tidak gunakan URL, yang penting ada nama kalian.. :)
>> Tidak menerima komentar berisi spam..
>> Apabila komentar tidak muncul, berarti komentar kalian belum di moderasi. Jadi tolong mengerti ya.. :)

terimakasih

-------------------------------------||-------------------------------------

Regulation to fill the comment box:

>> Don't use Anynomous
>> Use your google account or just your link/ URL. The main point is, always put your name here :)
>> Cannot receive any spam comment such as comment that it's not relevant with my topic
>> When your comment does not appear, it because I haven't approve that or I haven't read that. So just wait until I read that, please understand :)

Thank you

Catatan Terbaru