Beberapa Review di blog ini sebagian besar merupakan spoiler. Persiapkan diri anda sebelum membuka artikelnya. Trimakasih. -author-

#MyCupOfStory - Permulaan

Kamis, Agustus 18, 2016

sumber: google


Blog post ini dibuat dalam rangka mengikuti Kompetisi Menulis Cerpen #MyCupOfStory Diselenggarakan oleh GIORDANO dan Nulisbuku.com



“Ugh!”

Tubuhku terdorong ke depan, dan air panas di tanganku langsung terciprat ke segala arah, terutama ke lengah kemejaku yang jujur saja, baru aku beli 2 hari yang lalu.

Jadi, saat ini, aku punya beberapa masalah terkait apa yang baru saja terjadi. Aku baru saja berniat untuk menikmati rutinitas pagiku sebelum berangkat kuliah, yaitu meminum kopi, ini juga adalah kali pertama aku ke café ini berkat rekomendasi temanku di instagram, aku baru memutuskan untuk memakai baju baruku, dan rutinitas pagiku berantakan karena seseorang menyenggolku dan…

Jangan salahkan aku kalau aku langsung menengok penuh ancaman ke arah orang yang baru saja menabrakku dan sekarang mataku tengah mencarinya.

Tunggu,

Mencarinya?

Hey… kemana dia?


Kutengok ke segala arah dan tidak mendapati siapapun yang ‘mungkin’ saja menjadi penyebab kenapa pagi hariku menjadi berantakan, tapi tidak ada yang menengok ke arahku. Maksudku, dengan dengan tatapan menyesal atau meminta maaf, bukan seperti beberapa mata yang saat ini sudah menatapku dengan sorot kasihan.

“Mbak, ini lapnya.”

Seorang pegawai café menyodorkan sebuah kain dan saat itu aku menyadari bahwa setengah kopiku lenyap. Oh, kopiku!

Sambil menggertakkan gigi, aku terima kain dari karyawan café sambil menatapnya sedih “Mbak, bisa buatkan satu lagi?”

Ia menatapku mengerti dan mengambil gelas kopi di tanganku “Sabar ya mbak, emang masnya orangnya begitu, cuek bebek.”

Aku mengernyitkan dahi, karena aku tahu ia sedang membicarakan siapapun yang baru saja menabrakku, jadi aku mencondongkan tubuhku ke arahnya dan berbisik “Maaf mbak, orangnya yang mana ya?”

Ia mengerjap beberapa kali. Kurasa ia tidak menyangka aku tidak tahu siapa orang yang baru menyenggolku itu.

Karyawan itu berdeham “Yang di deket jendela, pakai jas hitam, mbak. Yaudah, saya buatkan yang baru ya mbak. Mbaknya duduk aja dulu nanti saya antarkan.”

Aku rasa sebenarnya penyajian kopi di café ini selalu memakai sistem mengambil sendiri, tapi karena mungkin banyak orang yang kasian melihatku didorong dan ditinggal oleh pelaku, jadi kau tahu pelayan itu mungkin ingin membuatku merasa sedikit lebih baik. Walaupun bukan itu yang terjadi. Begitu aku mendapati siapa orang yang baru saja ditunjukkan oleh karyawan tadi, aku langsung menyusun rencana.

***

“Fuck!”

Well, umpatan yang bagus. Untuk orang serapih, seelegan, dan ehm… aku hanya akan mengatakannya secara objektif,.. yah, setampan dia.

Anyway, aku hanya melakukan apa yang baru saja dilakukan olehnya. Menyenggolnya tepat ketika ia sedang mengangkat cangkirnya, dan ia langsung melompat dari kursi tepat ketika semburan kopi meluncur ke kemeja putih dan majalah yang sedang dibaca olehnya. Baiklah, mungkin aku agak keterlaluan, mungkin aku terlalu kencang mendorongnya, tapi aku sebenarnya tidak sekuat itu! Mungkin ia mendapat karma karena melakukan hal yang tidak pantas kepada wanita sepertiku.

Dengan tubuh tegap dan penuh percaya diri aku berjalan ke sisi lain jendela, dan duduk dengan tenang memandang taman café yang langsung membuat perasaanku lebih tenang.

***

Akhirnya kopi pengganti tersaji di hadapanku dan aku langsung menghirup aromanya yang membuat otakku terbangun, seperti apa yang sering terjadi biasanya. Sejujurnya, meskipun banyak orang berkata bahwa meminum terlalu banyak kafein tidak baik untuk tubuh, aku tetap memegang idealisku bahwa kopi memiliki manfaat yang baik selama kau tahu bagaimana cara yang tepat untuk menikmatinya. Kau perlu menikmatinya pada jam 10-11 siang, atau jam 2-5 sore. Bukannya pagi-pagi hari sekali, atau malam hari sekali. Setidaknya aku belajar kapan kortisol tubuh meningkat dan kapan ia turun.

Aku juga menyadari bahwa aku akan sangat betah disini karena harga kopinya benar-benar terjangkau. Café ini tepat seperti apa yang dideskripsikan salah satu akun kuliner yang kuikuti di instagram, bahwa kopi lokal adalah satu-satunya produk yang disajikan di café ini, bukan kopi luar semacam Americano Coffee, Signature Chocolate, Ristretto Bianco, dan teman-temannya yang sulit disebut. Disini tidak tanggung-tanggung menuliskan Kopi Luwak, Kopi Wamena, Kopi Lanang, Kopi Java, Kopi Toraja Kalosi, dan nama lainnya yang sekali baca langsung bisa disebut menggunakan lidah Indonesia. Meskipun begitu, café ini tetap khas café yang unik, elegan, agak sedikit memiliki nuansa nusantara, tetapi tetap ada campuran classic café yang sering kita idamkan ketika menjelajah café-café di luar negeri.

Ngomong-ngomong, kenapa aku merasakan seseorang mengamatiku ya?

Dengan pura-pura tidak peduli, aku menggeser bola mataku dari taman di depan mataku ke sebelah kiri, dan dengan cepat mengembalikan pandangannya ke arah taman.

Oke, jadi apa yang dilakukan di sampingku? Dan menatapku dengan tajam?

Maksudku, ada hal yang bisa ia lakukan selain menatapku kan? Misalnya pulang dan mengganti kemejanya?

“Hey, kamu.”

Tubuhku tersentak mendengar nada bicaranya yang dingin dan tajam, seolah aku sudah tahu saja apa yang akan ia katakan. Aku pura-pura menengok ke arahnya dengan mengangkat alis, berusaha terlihat tidak bersalah.

Memangnya hanya dia yang bisa melakukannya, hah?

Aku tersenyum “Ya?”

“Cukup tujuh ratus ribu saja. Sekarang. Cash.”

“Hah?”

“Kamu kan yang numpahin kopi ke kemaja saya?”

Aku masih tidak mengerti. “Terus?”

“Jadi kamu harus ganti kemeja saya. Sekarang.”

Mulutku melongo.

Orang ini gila?

Aku ingin meneriaki wajahnya yang tampan saat ini juga, tetapi sialnya ia bisa membuat percakapan kami terlihat seperti hanya kami berdua yang tahu jadi tidak ada orang yang menengok ke arah kami dengan curiga. Dan maaf saja, aku tidak mau jadi pihak yang terlihat lepas kendali disini.

Berusaha tetap tenang, aku menyeruput kopiku. Aku hanya berharap tidak terlihat gemetar. “Maaf, saya nggak mau.”

“Kenapa?”

Aku melirik ke arahnya “Kenapa?”

Pelan-pelan kuturunkan cangkirku, kemudian menengok ke arahnya dengan dahi dikerutkan “Maaf, kamu ini bodoh ya?”

Kutangkap matanya yang melebar mendengar ejekanku. “Apa?”

Aku menarik nafas, dan meletakkan kembali kopiku dengan hati-hati. Aku tidak mau dong kopiku berantakan lagi karena orang yang sama.

“Kamu tadi nyenggol saya, numpahin kopi saya, menghancurkan pagi saya, dan pergi seenak udel tanpa minta maaf. Trus sekarang saya cuma balas perlakuan kamu tadi, dan kamu minta apa? Tujuh ratus ribu?”

“Harga kemeja saya delapan ratus ribu,” jawabnya dengan nada sama datarnya dengan sebelumnya.

Astaga, apakah orang ini tidak mendengarkanku?

“Lalu?” Sejujurnya aku mengatakannya karena aku sama tidak mengertinya dengan orang yang kelihatannya berpendidikan ini.

“Kemeja saya baru, dan jam setengah 12 nanti saya ada rapat penting. Saya nggak minta kamu untuk belikan kemeja dengan harga sesuai, cukup ganti saja dengan uang cash sekarang, dan ini juga sudah saya diskon jadi tujuh ratus ribu. Apa kurang jelas?”

Mungkin orang ini memang bodoh.

Tidak bisa menahan emosiku, aku memutar tubuhku hingga tubuhku sepenuhnya menghadap laki-laki ini. “Harga baju saya sembilan ratus ribu, dan saya juga habis ini ada kuliah. Kamu nggak perlu beliin saya baju yang baru, cukup bayar saya saja tanpa diskon!”

Semoga kata-kataku terlihat meyakinkan. Karena harga kemejaku sebenarnya tidak sampai seratus ribu. Lagian, kemeja apa coba harganya delapan ratus ribu?

Melihat laki-laki itu mengerjapkan mata beberapa kali mendengar omelanku, ia menurunkan pandangannya dan mulai mengamati kemejaku.

“Kenapa aku harus ganti kemejamu?”

Aku menyodorkan tangan kananku ke arahnya, ke tempat dimana ia tadi menumpahkan kopiku.

“Ini. Tadi. Kamu. Yang. Bikin. Aku nggak tau kenapa kamu nggak sadar kalau habis menyenggol seseorang dan dengan santainya meninggalkan orang itu, tapi nggak mau kalau kamu yang diperlakukan dengan cara serupa! Kamu minta tujuh ratus ribu? Saya juga minta sembilan ratus ribu, gimana?”

Lagi-lagi orang itu menatapku selama beberapa saat.

Tepat 20 detik kemudian, ia tertawa terbahak-bahak.

Tunggu, kenapa ia tertawa?

Oh, Tuhan. Adakah yang bisa jelaskan padaku apa yang sedang terjadi disini?

Aku memandanginya dengan wajah kebingungan, dan mendadak semua orang yang ada di café ini memandang ke arah laki-laki yang tawanya tiba-tiba bisa membuatku merinding. Si empu yang punya tawa justru tidak menyadari banyaknya perhatian yang ia dapatkan. Tawanya menjadi pendek-pendek selama beberapa saat, kemudian ia mengangkat tangannya memanggil pelayan.

“Saya pesan kopinya satu lagi ya, mbak.”

Aku tidak tahu apakah karena laki-laki ini memesan sambil tersenyum, tapi yang jelas pelayan yang menerima pesanan laki-laki ini merona sebelum pergi. Aku tidak bicara apa-apa lagi dan berusaha tetap tenang meninum kopiku.

Tebakanku salah kalau mengira percakapan kami sudah berakhir.

“Jadi kamu marah karena… aku nggak sengaja nyenggol kamu dan numpahin sedikit kopimu itu?”

Bukan aku yang akan mengalah.

“Sebenarnya nggak sedikit, kamu menumpahkan setengah kopiku, sisanya tumpah ke lantai.” Aku melirik tajam ke arahnya “Dan aku suka banget kopi,” jawabku masih seketus sebelumnya. Tapi laki-laki ini justru tertawa lagi mendengar jawabanku.

“Oke, trus kamu balas dendam?”

Aku menyipit ke arahnya “Karena nggak ada permintaan maaf.” Kuangkat bahuku “Aku cuma melakukan hal yang sama.”

Ia menganggukkan kepala beberapa kali. Kuharap itu artinya ia mulai mengerti.

“Jadi kamu nggak mau ganti kemeja aku?”

Entah kenapa tensiku masih tinggi. Aku hanya menggeleng kuat-kuat, tetap fokus menyeruput kopiku, satu-satunya hal yang saat ini masih bisa membuatku tenang. “Satu-satunya hal yang aku tahu dari kejadian ini adalah kita impas. Kamu menumpahkan kopiku, dan aku menumpahkan kopimu.”

Lagi-lagi ia tertawa pendek. Aku melirik ke arahnya tepat ketika pelayan meletakkan kopi di atas meja laki-laki yang tidak segera menyingkir dari hadapanku ini, dan mendapati senyum masih merekah dibibirnya meskipun dahinya mengkerut. Sepertinya ia sedang merasa geli, entah karena apa.

Cepat-cepat aku menghabiskan kopiku, tidak mau berurusan lebih panjang dengan laki-laki ini, ditambah ia membuat tubuhku panas dingin duduk hanya sejarak satu penggaris, jadi aku harus bergegas pergi. Tak lama setelah kopiku habis, segera kubereskan barang-barangku dan menyampirkan tas dipundakku. Aku tidak berniat untuk mengucapkan salam perpisahan padanya, jadi aku langsung turun dari bangku dan berbalik.

“Hey.”

Jantung bodoh. Kenapa ia harus melompat hanya karena mendengar laki-laki ini memanggilku?

Tidak menyangka ia akan menyadari kepergianku, aku menoleh ke arahnya dengan dahi berkerut tanpa membalas sapaannya. Kurasa ia mengerti.

“Kamu besok kesini lagi?”

Untuk itu, aku tidak berfikir panjang ketika menjawabnya.

“Dan ketemu kamu lagi? Maaf, ini adalah pertama dan terakhir kalinya aku kesini dan kenikmatanku minimum kopi nggak sepadan sama pertemuan kita. Jadi, nggak, terimakasih banyak.”

Setelah mengatakannya, aku langsung berjalan dengan penuh percaya diri keluar café. Café yang sejujurnya kuanggap menarik, aku bahkan hampir menjadikannya tempat favorit yang akan selalu kusinggahi setiap aku masuk kuliah siang. Sekarang aku harus mencari tempat lain. Gara-gara laki-laki ini.

***

“Alyaaaaaa!!!”

Untuk kedua kalinya, tubuhku terdorong ke depan. Tapi bukan dari laki-laki tadi pagi, atau siang, entahlah, bagaimana caramu menyebut jam 10 pagi? Atau 10 siang?

Aku menoleh sinis ke arah Renata “Plis deh, Ren, jangan dorong-dorong aku dulu. Lagi sensitif banget nih.”

Ia tertawa mendengar penjelasanku yang sangat terlihat bad mood. “Idih, kenapa sih, Ya? Kan kamu udah minum kopi? Bukannya harusnya kamu udah semangat ya?”

Mengingat aku sudah berjanji tidak akan ke tempat itu lagi membuat perutku mulas. Aku baru saja mencoba satu kopi lokal! Dan aku berjanji kepada orang yang tidak punya urusan denganku untuk tidak kembali kesana?

Aku mendengus. “Efek kopinya sih jalan, sekarang kortisol-ku naik jadi aku nggak ngantuk, tapi nggak bisa bikin moodku ikutan naik setelah tadi ketemu orang paling nyebelin di calon tempat minum kopi favoritku.”

Renata bukannya menghiburku ia malah tertawa mendengar penjelasanku “Alya, Alya, tetap sedramatis biasanya ya.”

Aku menoleh kepadanya sambil cemberut “Mana dramatisnya sih, Ren? Emang beneran nyebelin! Masa tadi waktu aku lagi ambil kopi trus ada orang…”

“Oke, oke, aku dengerin kamu cerita habis kita masuk kelas, okay? Aku nggak mau ikutan bolos kuliah ini kayak tadi kamu bolos kuliah bahasa, walaupun kamu bilang itu nggak penting sih, tapi kita dapet informasi super duper penting dan nggak boleh sampe nggak masuk kuliah ini!” katanya sambil mendorong tubuhku melalui lorong kelas-kelas di fakultasku. Renata sendiri tidak pernah sadar kalau dirinya banyak bicara. Aku menghela nafas, tahu bahwa seringkali kami harus bergantian untuk bicara.

Setelah kami berjalan menyusuri lorong fakultas dan menuju kelas, mendadak langkahku berhenti tepat ketika mataku menyusuri jendela tepat sebelum pintu masuk. Renata langsung menabrak punggungku.
“Eh kenapa?”

Jantungku berdegup kencang, dan perutku mulasku bertambah parah.

“Eh, itu dia! Itu, itu, ituuu…” Renata berbisik kencang di telingaku, dan suhu tubuhku meningkat drastik. Damn it! Aku ingin kabur!

Aku mundur selangkah, tapi Renata langsung menahan tanganku, tidak menyadari bahwa aku sudah siap melarikan diri, tapi ia juga tidak sadar bahwa ia memiliki kekuatan untuk menahanku tetap berdiri di tempat. “Itu dosen baru yang sibuk disebut anak-anak kelas tadiii.. kamu sih nggak masuk jadi nggak tau! Lihat-lihat, masa iya sih dia baru pertama masuk kemejanya udah kotor gitu kan ngakak banget! Untung dia ganteng dan masih muda. Katanya dia langsung disuruh ngajar disini selepas S2. Kurang keren apasiiih? Beruntung banget kita dapet dosen seganteng…”

“Renata, diem dulu!!” teriakku yang membuat Renata langsung berkedip dan melepas tanganku kaget. Aku sendiri juga kaget dengan suaraku yang lepas kendali. Aku mengigit bibir, tahu bahwa suaraku pasti sangat keras. Aku menyadari hal tersebut karena tepat ketika aku menoleh ke dalam kelas, laki-laki itu, yang sedang berdiri sibuk menyalakan LCD, menoleh ke arahku, dan mata kami langsung terkunci.

Ya Tuhan. Andai aku tahu harus kusebut apa perasaan yang kurasakan ini?

---- TAMAT ---

Tidak ada komentar :

Poskan Komentar

Syarat menambahkan komentar:

>> Jangan berkomentar dengan menggunakan Anynomous
>> Gunakan account google kamu atau jika tidak gunakan URL, yang penting ada nama kalian.. :)
>> Tidak menerima komentar berisi spam..
>> Apabila komentar tidak muncul, berarti komentar kalian belum di moderasi. Jadi tolong mengerti ya.. :)

terimakasih

-------------------------------------||-------------------------------------

Regulation to fill the comment box:

>> Don't use Anynomous
>> Use your google account or just your link/ URL. The main point is, always put your name here :)
>> Cannot receive any spam comment such as comment that it's not relevant with my topic
>> When your comment does not appear, it because I haven't approve that or I haven't read that. So just wait until I read that, please understand :)

Thank you

Catatan Terbaru