Menyelesaikan Masalah Insecure dan Minder dengan Menggunakan Inner Child

Aku mau mencoba menggunakan teknik ini dengan satu kemelekatan yang kutanamkan pada diri sendiri selama bertahun-tahun, tanpa sadar tentunya.

Aku mencoba menarik mundur ke masa lalu, karena ini tidak terjadi hanya sekali. Aku tahu ini terjadi berulang kali sepanjang hidupku. Dan ini jelas sangat mengganggu. Tapi aku diamkan karena aku tidak tahu pendekatan terbaik untuk mengatasinya.

Ini tentang aku yang sering merasa insecure, dan tidak percaya diri. Pencapaian dalam konteks ilmu yang aku kuasai adalah satu-satunya pelarian diri yang kulakukan untuk menekan perasaan-perasaan tidak mampu itu.

Masalahnya, ketika suatu pencapaian hasilnya tidak sesuai dengan yang aku harapkan, aku akan menarik diri dari dunia. Bergelut menyalahkan diri sendiri, mengatai diri sendiri, menjudge diri sendiri.

Kupikir, tidak bisakah aku tetap merasa berharga tanpa pencapaian-pencapaian ini? Bukankah manusia tetap bernilai bahkan tanpa mengenakan atribut apapun? Karena jiwa itu sendiri adalah sesuatu yang murni dan berharga.

Karena aku tidak mau hanya sibuk affirmasi mengatakan diri ini berharga tanpa keyakinan di dalamnya, maka perasaan yang membelengguku untuk memiliki keyakinan baru itulah hal pertama harus kulepaskan.

Jadi, aku mengambil waktu untuk mengingat kembali kapan pertama kali perasaan ini muncul.

Ingatan mana di awal hidupku yang mentrigger kemunculan awalnya.

Itu, saat aku SD. Belasan tahun yang lalu.

Aku memiliki seorang Ibu yang berkulit kuning langsat, dan ayahku yang berkulit gelap. Aku lahir dengan kulit yang standar jawa sebetulnya. Tidak putih tidak hitam. Kecoklatan, which is normal. Sudah lama aku menerima fakta itu dan tidak lagi mempermasalahkannya.

Aspek fisik lain adalah wajahku yang tidak cantik-cantik amat kalau berdasarkan standar society ya. Biasa aja. Mudah berjerawat, berminyak, dan pori pori besar. Hal inipun rasanya sudah lama sekali aku terima.

Setiap kali aku tidak puas akan suatu pencapaian, aku selalu menyalahkan fisikku sendiri? Bukankan aku sudah menerima diriku apa adanya?

Dan akupun teringat kembali ke masa itu.

Seorang anak kecil, yang sering mendapat ejekan dari teman-temannya mengenai fisiknya. Yang sering diganggu saat sekolah hingga ia sering bersedih dan menangis. Ia memiliki teman yang sering membandingkannya dengan teman lain yang lebih cantik. Sehingga anak inipun tumbuh dengan selalu membandingkan dirinya dengan orang lain.

Anak itu ternyata masih ada dalam diriku. Dengan segsla keminderannya.

Apa perasaannya dulu saat ia menerima ejekan verbal tentang fisiknya?

Ia merasa terhina dan tidak berharga. Ia menyalahkan dirinya yang lahir seperti itu. Ia mencoba membandingkan dengan orang tua lain. Mungkin kalau ia lahir di orang tua berbeda dan lahir cantik, mungkin ia tidak akan sering diganggu seperti itu?

Anak itu masih kecil, tapi ia merasa tidak pernah cantik.

Yah, padahal aku kalau lihat foto-fotoku waktu kecil cukup terhibur. Aku cukup manis, dan lucu.

Dan disitulah awalnya. Akar yang membuatku menjadikan sebuah pencapaian sebagai nilai atas diriku. Karena fisik tidak bisa diubah, maka aku mengusahakan sesuatu yang bisa aku ubah.

Tapi itu menjadi penghalang karena aku jadi kehilangan keyakinan atas diriku sendiri. Walaupun sekarang udah mendingan sih, tapi dulu parah banget.

Pertama, aku mengingat kembali diriku yang kecil itu. Dan aku mencoba kembali merasakan perasaan yang ia rasakan. Aku merasakannya, dan hanya merasa tanpa menberikan label apapun. Kubiarkan perasaan itu hadir dan membiarkan ia hilang dengan sendirinya.

Ah, ternyata ada rasa marah. Marah kepada mereka yang mengejek dan mengataiku. Rasa marah inilah yang bertransformasi menjadi keinginan untuk memiliki pencapaian.

So back to the step one. Aku akan menyelesaikan rasa marahnya dulu.

Kedua, saat ini rasa marah yang mendasari seharusnya sudah berkurang. Pada tahap ini, ubah makna kejadian tersebut. Hadirkan lagi dan mainkan skenario baru.

Beri mereka kemurahan hati dan maafkan perbuatan mereka. Mau bagaimanapun mereka masih anak-anak, aku juga tidak tahu apa yang terjadi dalam hidup mereka, atau cara orang tua mereka mendidik. Aku tidak punya kontrol terhadap hal itu. Tapi aku bisa memaafkan walau bujan berarti membenarkan perlakuan mereka.

Ada hikmah yang bisa aku ambil atas kejadian itu. Aku tumbuh dengan baik. Aku memiliki teman-teman yang sekarang menyayangi dan peduli padaku. Aku hidup dilingkungan yang baik. Dan kejadian kejadian itu membuatku menjadi lebih kuat saat ini.

Ketiga, aku visualisasikan diriku yang sekarang dewasa bersama dengan diriku yang kecil mendatangi mereka yang pernah berbuat nakal dan mengejekku. Kudatangi mereka dan kepeluk mereka. Kukatakan: aku maafin kalian. Nggak apa. Aku maafin kalian. Kalian saat ini hanyalah fragmen masa lalu, bukan orang sebenarnya.

Kalian diingatanku masih anak kecil yang perlu kasih sayang orang dewasa. Anak kecil yang seharusnya masih murni. Jadi yah aku maafin kalian.

Dan aku juga menatap diriku yang kecil, dan memeluknya. Sambil berkata: Mereka tidak bisa menyakitimu lagi. It’s okay. Bersenang senanglah dengan masa kecilmu.

Aku melihat diriku yang kecil akhirnya tersenyum, dan berlari menjauh. Menjauh dari teman2nya yang toxic dan bersenang senang dengan teman2nya yang lain.

Pada tahap akhir ini, aku merasa bahwa anak-anak yang sering mengejekku itu. Yah entah bagaimana kabar mereka hari ini. Aku harap mereka tumbuh dan hidup menjadi pribadi yang baik. Aku doakan mereka mendapati pelajaran untuk menjadikan diri mereka lebih baik.

Karena masa lalu itu ternyata mempengaruhiku, maka di ingatanku anak2 itu selalu ada disana dan mengejek, menjudgeku, menghinaku. Padahal masanya sendiri sudah lewat. Pada kenyataannya saat ini itu hanya berakhir sebagai sebuah ingatan.

Jadi saat tadi aku menvisualisasikan diriku memaafkan mereka, sesungguhnya aku memaafkan proyeksi diriku sendiri. Aku memaafkan diriku sendiri yang terus menyalahkan diriku sendiri, yang mengira ini salahku sendiri. Karena yah, itu proyeksi yang selama ini mengendap di ingatanku. Dan aku kali ini membiarkan mereka pergi dengan memaafkan mereka.

Komentar