Orang yang Menyakitimu adalah Orang yang Menyakiti Diri Sendiri


Hari ke 9

Masya Allah… bertahan sampai hari ini saja aku sudah senang. Perjalanan masih panjang, mari syukuri setiap waktunya saja.

Yang pasti, minggu yang berat sudah terlewati, dan aku tidak tahu apakah di depan akan ada minggu yang lebih berat menanti. Hanya saja, melewati minggu tersebut dan masih ada disini, menulis disini hari ini, dengan semangat yang baru, dan aku tidak perlu ketakutan kehabisan ide, karena entah kenapa hari ini aku memiliki sesuatu yang ingin kubahas.

Ya. Mengeai seseorang yang pernah menyakitimu.

Kamu pasti pernah bertemu dengan seseorang yang marah padamu, seseorang yang mengataimu, berkata-kata buruk tentangmu, dan… mungkin cukup sering sehingga membuat kamu mempercayai kata-katanya.

Bahwa kamu memang seburuk itu.

Bahwa kamu memang bersalah.

Bahwa kamu pantas merasa seperti itu.

Aku sendiri juga begitu. Sampai sekarang, masih banyak kata-kata buruk dari orang yang terserap begitu saja di kepalaku, kemudian membuatku merasa bahwa aku memang seburuk itu.

Bahwa aku bodoh. Aku tidak pintar. Aku ceroboh. Aku jelek. Aku buruk. Aku pemalas. Aku tidak punya hati.

Apalagi kalau yang berkata seperti itu adalah orang-orang terdekatmu.

Sesakit apa rasanya jika seseorang yang dekat denganmu berkata seperti itu padamu?

Bagaimana mungkin kita tidak merasa bahwa itu benar adanya?

Tapi setelah tahun-tahun aku melewati hari-hari dengan menganggap perkataan itu benar adanya, bahwa aku memang sesuai dengan apa yang keluargaku katakan, hingga rasanya kata-kata itu selalu membuatku takut untuk bertindak, akhirnya aku menemukan satu buah pernyataan yang dibenarkan oleh para ahli akan pernyataan-pernyataan berikutnya.

Bahwa mereka yang berkata menyakiti hatimu, sesungguhnya mereka itulah yang menderita.

Aku ingin bilang, bahwa kata-kata yang keluar dari mulut seseorang, mencerminkan diri mereka sendiri.

Itu membuatku sedih jujur saja. Aku tidak mau berfikir bahwa orang-orang terdekatku mengalami penderitaan seperti apa yang mereka ucapkan untuk menyakitiku. Pemahaman ini akan memudahkan kita untuk memaafkan mereka, memiliki empati, dan tidak akan membalas mereka dengan amarah yang sama. Ini pelatihan mental untuk diri sendiri, tapi kurasa memang benar adanya. Meyakininya seperti itu membuatku jauh lebih mudah mengendalikan diri.

Tapi jika itu benar adanya, dan kita hanya menjadikan kata-kata itu menjadi nyata untuk diri kita sendiri, maka yang ada aku hanya akan melakukan hal yang sama kepada orang lain, dan mencerminkan penderitaanku sendiri.

Bahkan jika seseorang membully, sebenarnya itupun cerminan dari diri mereka sendiri.

Saat aku memahami maknanya, maka aku mencoba untuk sebisa mungkin memberikan benteng pertahanan untuk diriku sendiri.

Kita tidak akan terhindar dari orang-orang yang akan tetap berkata buruk, tapi memahami bahwa sebenarnya itu adalah ungkapan diri atas diri mereka sendiri, akan membuat sakit yang kita rasakan menjadi berkurang.

Bukan berarti kalau kita salah kita tidak mengakuinya.

Tetapi jika seseorang marah padamu, sebenarnya mereka hanya mengungkapkan kemarahan mereka terhadap diri sendiri. Terhadap situasi mereka sendiri hingga tidak tahu bagaimana cara mengungkapkannya, kecuali menemukan kambing hitam untuk merasa sama menderita seperti mereka.

Rasanya itu masuk akal.

Sehingga saat ada seseorang yang mengatakan hal-hal yang menyakitiku, marah padaku, aku tahu bahwa mereka sebetulnya tidak bermaksud seperti itu.

Aku meyakini diriku sendiri bahwa aku kebalikan dari apa yang mereka ucapkan. Bahwa aku kreatif, aku pejuang, aku kuat, aku hebat, dan semua hal positif yang aku ingin mencerminkan diriku sendiri.

Tugas kita adalah merasa bahagia dan menyebarkan energi tersebut ke orang-orang yang kita cintai. Dengan mereka mendapatkan energi kita, mereka mungkin secara tidak sadar akan memahami deritanya sendiri dan mulai memperbaiki diri.

Aku yakin, bahwa kita tidak perlu merubah orang lain. Kita semua tahu bahwa merubah orang lain itu tidak mungkin bisa dilakukan. Kita sendiri yang harus mengubah diri sendiri, sehingga situasi akan otomatis ikut berubah.

Komentar